firdausj
Mar 26 2007, 05:06 AM
Sorry in Bahasa Indo.
Can we take it back ?
QUOTE
Berburu Harta Soeharto Inc
M Fadjroel Rachman
Kompas; 26 Maret 2007
Anda pasti percaya karena tidak mungkin mantan presiden berbohong sampai dua kali bukan? Tetapi sekarang Anda pasti terkejut, harta siapakah senilai 36 juta euro atau Rp 435 miliar yang dibekukan Banque Nationale de Paris (BNP) Paribas cabang Guernsey oleh Finance Intelligence Service, pengawas pergerakan uang di Inggris? Dana tersebut dicurigai milik Soeharto!
Garnet Investment Limited milik Tommy Soeharto sekarang berebut dengan Pemerintah Indonesia melalui Pengadilan Distrik Guernsey, Inggris. Namun, uang "Tommy Soeharto" sebesar Rp 90 miliar atau 10 juta dollar AS yang juga dibekukan oleh BNP Paribas cabang London sudah ditransfer melalui rekening Direktorat Administrasi Hukum Umum Departemen Hukum dan Perundang-undangan, yang "dipinjamkan" Menteri Yusril Ihza Mahendra, mantan penulis pidato (ghost writer) Soeharto, dan diurus kantor pengacara miliknya, Ihza & Ihza. Pada Februari 2005, uang tersebut mengalir ke rekening negara tersebut ketika Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dipimpin Hamid Awaludin.
Tampaknya, semua uang, baik di London maupun Guernsey, adalah uang yang ditransfer Tommy Soeharto pada 22 Juli 1998 senilai 60 juta dolar AS, dua bulan setelah Soeharto lengser pada 21 Mei 1998. Kenapa BNP Paribas Guernsey ngotot menahannya, dan Pemerintah Indonesia ngotot mengambil alih, Marty Natalegawa, Duta Besar Indonesia di Inggris, mengatakan kepada Financial Times (22/1) bahwa "the money is beneficially owned by the Republic of Indonesia because it was obtained by corrupt use of power during the Soeharto era."
Harta Soeharto Inc
Kerajaan bisnis Tommy, bagian dari Soeharto Inc, bagaikan laba-laba raksasa, berkembang di antaranya dengan perlindungan Soeharto melalui Inpres No 2 Tahun 1996 dan Keppres No 42 Tahun 1996 tentang Mobil Nasional, atau Keppres No 8/1980 tentang Tata Niaga Cengkeh. Masyarakat Transparansi Indonesia pada 1999 mengkaji ada 79 keppres berindikasi penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), yang dikeluarkan Soeharto dari 528 keppres rezim Soeharto-Orde Baru pada periode.
Perusahaan induk Tommy Soeharto adalah PT Humpuss, memiliki 48 perusahaan di dalam negeri pada industri perdagangan, produk metal, kehutanan, kimia, makanan dan minuman, jasa, properti/perkantoran/perbelanjaan, konstruksi, transportasi dan otomotif, farmasi, dan keuangan. Sementara itu, di luar negeri, 14 perusahaan tersebar di Singapura, Panama, Liberia, Hongkong, dan Cayman Islands. Nama-nama perusahaan tersebut tercatat sebagai bukti hukum ketika terjadi gugatan Soeharto terhadap majalah Time, yang dimenangi Time (Penerbit Buku Kompas, 2001). Perusahaan Garnet Investment Limited berbasis di Tortola, British Virgin Islands, belum tercatat di dalamnya.
Ada beberapa pola penyelamatan harta Soeharto Inc pascalengsernya Soeharto. Pertama, membuat perusahaan baru di dalam dan luar negeri. Kedua, menitipkan uang kepada para konglomerat atau pengusaha sahabat keluarga. Ketiga, membeli saham perusahaan lain di pasar modal dalam dan luar negeri. Keempat, mematikan perusahaan lama dan memindahkan asetnya ke perusahaan baru. Kelima, menyimpan aset tunai ke perbankan atau lembaga keuangan asing dengan nama rekanan asing atau perusahaan baru seperti Garnet Investment Limited.
Soeharto Inc memiliki sekitar 350 perusahaan di dalam dan luar negeri. Pemiliknya enam anak Soeharto dan satu cucu, yaitu Siti Hardiyanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi, Hutomo Mandala Putra, Siti Hutami Endang Hadiningsih, dan Ari Harjo Wibowo (cucu).
Sikap mendua
BNP Paribas cabang Guernsey dan Finance Intelligence Service berjasa besar membuka ingatan kita tentang kejahatan korupsi Soeharto Inc yang secara sistematis dilupakan oleh pihak eksekutif, yudikatif, dan legislatif. Bahkan Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI dan Ketua Umum Partai Golkar, mengatakan bahwa harta Tommy Soeharto tidak bermasalah, mendahului keputusan Pengadilan Distrik Guernsey.
Nah, di tengah sikap mendua para pejabat tinggi terhadap Soeharto, dari pembelaan Jusuf Kalla atas asal-usul harta Soeharto Inc dan Jaksa Agung yang sudah mengeluarkan SKP3 untuk Soeharto, tentu publik sangat sangsi terhadap tekad Jaksa Agung memburu harta Soeharto Inc. Di tengah kesangsian tersebut, berapakah sebenarnya nilai harta Soeharto Inc yang perlu diburu?
Transparency International menempatkan Soeharto sebagai pemimpin politik terkorup di dunia, perkiraan korupsi senilai 35 miliar dollar AS (2004), Newsweek (Januari 1998) memperkirakan 40 miliar dollar AS, dan majalah Forbes menobatkan Soeharto sebagai orang terkaya keempat di dunia (28 Juli 1997). Perkiraan moderat harta Soeharto Inc adalah 60 miliar dollar AS plus bunga tentu saja!
Jadi, uang di Guernsey dan London hanya uang recehan bagi Soeharto Inc. Jika uang 10 juta dollar AS dari BNP London sudah kembali ke Indonesia, di mana sekarang disembunyikan? Jika berada di bank pemerintah atau swasta di Jakarta, kenapa tidak dikejar oleh Jaksa Agung? Tentu lebih mudah mengejar dan mengambil alihnya daripada di luar negeri? Bukankah aset Soeharto Inc bertaburan di Indonesia, di Jakarta saja dengan mudah siapa pun bisa menunjuknya secara langsung.
Apabila harta Soeharto Inc di dalam negeri tidak diburu, Jaksa Agung akan membenarkan pepatah "kuman di seberang lautan nampak, sedangkan gajah di pelupuk mata tidak nampak". Jangan tanggung, jangan kepalang, mari kita berburu semua harta Soeharto Inc di dalam dan luar negeri—seperti dilakukan Pemerintah Filipina terhadap harta Marcos—untuk kesejahteraan rakyat Indonesia yang digulung bencana, busung lapar, dan kemiskinan. Tentu hasilnya tidak untuk membantu 550 anggota DPR yang sedang berpesta laptop, atau studi banding ke luar negeri di tengah kesengsaraan rakyat sekarang ini.
Perkara Soeharto Inc memang perkara kakap. Tak pernah terjadi di mana pun rekening pemerintah, celakanya lagi rekening Departemen Hukum dan HAM, dipakai oleh "pemimpin politik terkorup di dunia dan keluarganya", diperlakukan layaknya rekening pribadi. Ini betul-betul skandal politik paling memalukan dan penyalahgunaan kekuasaan secara telanjang!
Siapa pun yang terlibat mesti bertanggung jawab secara hukum, dan Mensesneg Yusril Ihza Mahendra dan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin seharusnya mengundurkan diri/diberhentikan untuk menjaga integritas moral dan politik pemerintah.
Saatnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertindak tegas! Mungkinkah? Perombakan kabinet adalah cara terbaik saat ini. Jangan ragu, jangan bimbang, kesejahteraan rakyat lebih utama daripada sekadar kursi kekuasaan. Tidak terpilih lagi pada Pemilu 2009 karena kebijakan yang berpihak kepada rakyat adalah lebih baik daripada dikenang sebagai presiden yang mengkhianati cita-cita kedaulatan dan kesejahteraan rakyat.
Saatnya SBY menjadi negarawan, bukan sekadar politisi yang medioker. Selain kewajiban kita, warga negara Indonesia, untuk tidak lupa dan tidak membiarkan pejabat negara berkongkalikong menyelamatkan harta (daripada) Soeharto Inc. Mari berburu harta Soeharto Inc!
M Fadjroel Rachman Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan(Pedoman Indonesia)
ricochet
Mar 26 2007, 06:53 AM
QUOTE(firdausj @ Mar 26 2007, 06:06 PM) [snapback]2816520[/snapback]
Sorry in Bahasa Indo.
Can we take it back ?
Take it back?? dream on bro
The administrative cant even convict him.....the indonesian govt are blinded by money... the law is juz a gimmick to the rich and poweful
firdausj
Apr 11 2007, 12:26 AM
QUOTE
Otobiografi
Soeharto, Patriot atau "Crook"
Suryopratomo; Kompas – 11 April 2007
Tidak bisa disangkal salah satu keberhasilan yang dicapai Presiden Soeharto selama 32 tahun menjadi orang nomor satu di Indonesia adalah mengubah Indonesia dari negara miskin menjadi negara yang beranjak ke negara industri baru.
Namun, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan pertanian, Soeharto paham betul kehidupan rakyatnya. Walaupun Indonesia hendak beranjak menuju negara industri, sebagian besar rakyat Indonesia tetap menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.
Ketika perjalanan hidup membawa dirinya menjadi seorang tentara yang sarat dengan penugasan yang menantang dan akhirnya membawa dirinya menggapai jenjang tertinggi, yakni meraih jenderal bintang empat bahkan kemudian bintang lima, Soeharto tetap tidak lupa akan kehidupan yang sebenarnya dari rakyatnya. Demikian pula ketika kemudian arus besar politik dalam negeri pada tahun 1965 menarik dirinya ke arena politik dan pengabdian sipil, hal yang pertama dilakukan adalah melakukan perbaikan kehidupan rakyat. Kebutuhan pangan yang tidak memadai sehingga membuat tingkat inflasi melambung sampai 650 persen membuat ia tidak bisa lain kecuali yang pertama dilakukan adalah memperbaiki sistem produksi pertanian.
Bersama para ahli ekonomi dari Universitas Indonesia yang dipimpin Prof Widjojo Nitisastro dan Prof Ali Wardhana, Soeharto merancang sebuah konsep pembangunan ekonomi jangka panjang yang terprogram. Konsep pembangunan yang di zaman Presiden Soekarno berada di bawah bendera "Demokrasi Terpimpin" diubah menjadi "Garis Besar Haluan Negara" yang diterjemahkan dalam rencana pembangunan lima tahunan (repelita).
Setelah dua tahun mengemban tugas sebagai Penjabat Presiden, Soeharto menjalankan Repelita I-nya pada tahun 1969. Arah yang ingin dicapai sangatlah sederhana, yakni bagaimana bangsa Indonesia bisa memenuhi kebutuhan pangan dan juga sandang sendiri.
Pelibatan dari semua komponen bangsa dilakukan agar program pembangunan bisa berjalan dan berhasil. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor, misalnya, dilibatkan untuk turun ke lapangan, mendampingi para petani agar bisa menjalankan program bimbingan massal.
Konsistensi dalam menjalankan program pembangunan itulah yang akhirnya membawa Indonesia menggapai swasembada pangan pada tahun 1984. Prestasi besar itu membawa Presiden Soeharto meraih penghargaan dari Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).
Barulah setelah berhasil memenuhi kebutuhan perut, arah pembangunan bisa dilakukan ke bidang lain. Setelah itu repelita diarahkan ke bidang perumahan, pendidikan, kesejahteraan sosial, dan kemudian pembangunan industri.
Tidak tertulis
Pencapaian pembangunan ekonomi yang dilakukan Indonesia selama 32 tahun kepemimpinan Presiden Soeharto sangatlah luar biasa. Tidak hanya pujian yang diberikan, tetapi konsep pembangunan banyak yang ditiru oleh negara-negara lain.
Soeharto mengakui bahwa keberhasilannya membangun perekonomian Indonesia tidak bisa juga dilepaskan dari faktor keberuntungan. Antara lain adanya bonanza minyak pada tahun 1974 yang memungkinkan Indonesia memiliki kesempatan untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan untuk mempercepat laju pembangunan.
Sayang, landasan pembangunan yang bagus itu tidak tercatat dengan baik. Konsentrasi yang berlebihan kepada pelaksanaan pembangunan membuat semuanya seperti terlupa untuk membuat catatan tertulis yang bisa dijadikan sejarah bagaimana Orde Baru membangun perekonomian bangsa ini.
Itulah yang disayangkan oleh Soeharto. Kerja keras yang dilakukan tidak cukup bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi yang akan datang. Padahal catatan seperti itu penting bagi generasi mendatang untuk mengetahui kekuatan sekaligus kelemahan dari pembangunan ekonomi di zaman Orde Baru.
Di samping hal-hal yang positif, seperti bimas, puskesmas, posyandu, dan pengendalian tingkat kelahiran, ada hal-hal yang membuat perjalanan bangsa sempat oleng, seperti kasus Pertamina dan korupsi di Bulog. Bahkan, yang terakhir ketika perekonomian Indonesia terempas oleh krisis keuangan yang melanda Asia Tenggara tahun 1997 yang ditengarai disebabkan juga oleh ditinggalkannya Soeharto oleh para konglomerat yang ia besarkan.
Mengenang ke belakang
Buku Soeharto, The Life and Legacy of Indonesia's Second President yang ditulis Retnowati Abdulgani-Knapp tidak bisa dilepaskan dari konteks keinginan mantan Presiden RI itu untuk menuliskan perjalanan sejarah yang telah ia lalui. Buku itu menjadi sebuah otobiografi yang hidup karena tidak hanya menceritakan kejayaannya, tetapi seluruh kehidupan Soeharto mulai dari lahir sampai masa tuanya sekarang ini yang tak lepas dari kecaman dan berbagai tuduhan.
Retnowati sangat beruntung karena ia putri dari tokoh kemerdekaan Roeslan Abdulgani sehingga punya akses untuk mendengar langsung semua cerita itu dari sang mantan Presiden. Sayang, kesempatan itu diperoleh di saat Soeharto sudah berusia 86 tahun dan berulang kali keluar-masuk rumah sakit. Meski tidak dimungkiri ingatannya masih sangat kuat, Soeharto tak cukup lancar menyampaikan pikirannya. Akibatnya, Retnowati terpaksa untuk menerjemahkan beberapa pikiran Soeharto itu agar bisa ditangkap lebih mudah oleh pembaca.
Meski demikian, buku tentang Soeharto—yang akan diluncurkan tanggal 12 April di Singapura dan tanggal 25 April di Jakarta—tetap menarik untuk diikuti, apalagi Retnowati secara baik mampu mengangkat isu-isu sensitif yang menjadi pertanyaan banyak pihak. Seperti soal siapa orangtua Soeharto yang sebenarnya, peran Ibu Tien dalam kehidupan Soeharto, para putra-putri, soal yayasan yang sekarang sedang diutak-utik kembali, hubungan dengan para konglomerat, serta teman-temannya yang setia dan yang mengkhianati.
Salah satu episode yang diangkat secara baik dan menarik untuk menjadi pengetahuan kita adalah saat-saat menjelang Soeharto harus lengser dari kursi kepresidenan. Bagaimana ia berupaya untuk bisa mengendalikan krisis ekonomi, termasuk kemungkinan mem-peg rupiah terhadap dollar AS seperti diusulkan ahli moneter AS, Steve Hanke, dengan Currency Board System-nya. Untuk mencegah agar Soeharto tak melakukan itu, Presiden AS Bill Clinton mengirim mantan Wakil Presiden Walter Mondale untuk menemuinya di Jakarta, Maret 1998.
Dalam perjalanan pulang dan mampir di Singapura, Mondale bertemu PM Goh Chok Tong dan Menteri Senior Lee Kuan Yew. Mondale sempat bertanya apakah Soeharto seorang pahlawan atau penjahat (crook)?
Jawaban yang disampaikan Lee Kuan Yew sangat menarik. "Sebagai Presiden Indonesia, Soeharto merasa dirinya seperti seorang sultan besar dari kerajaan besar. Ia merasa wajar apabila putra-putrinya mendapatkan privilese seperti halnya para pangeran dan putri pangeran di Kerajaan Solo. Dia melihat dirinya sebagai seorang patriot. Saya juga tidak mengklasifikasikan dia sebagai seorang penjahat (crook)."
firdausj
Apr 13 2007, 01:42 AM
QUOTE
Peluncuran Buku
Sosok Soeharto Harus Dilihat secara Lebih Lengkap
Singapura, Kompas - Penilaian terhadap mantan Presiden Soeharto tidak bisa hanya dilihat dari fase terakhir kepemimpinannya. Apalagi, faktanya, sumbangsih Soeharto terhadap dunia dan kawasan sangat besar.
Penilaian tersebut terungkap pada acara bedah buku Soeharto, The Life and Legacy Indonesia Second’s President karya Retnowati Abdulgani-Knapp yang diselenggarakan Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dan penerbit Marshall-Cavendish di Singapura, Kamis (12/4).
K Kesavapany dari ISEAS menjelaskan, stabilitas dan kemakmuran yang dirasakan masyarakat Asia Tenggara sekarang ini tidak terlepas dari peranan Soeharto. "Ia merupakan tokoh yang sangat penting untuk menjadikan Asia Tenggara seperti sekarang," kata Kesavapany.
Mantan Dubes Singapura untuk Indonesia, Barry Desker, membenarkan penilaian tersebut. Ia masih ingat bagaimana sikap yang ditempuh Soeharto ketika Singapura mengizinkan wilayahnya dijadikan pangkalan militer AS untuk menggantikan Subic dan Clark, Filipina. Juga ketika Inggris dan Australia ingin menerapkan "Rute Kanguru", di mana kedua negara itu bersepakat untuk tidak menjadikan Singapura sebagai tempat transit.
"Hal yang paling tidak pernah dilupakan Singapura adalah saat Indonesia mengalami krisis beras di tahun 1965 dan meminjam dari Singapura 10.000 ton. Ketika harga beras naik dan Singapura memutuskan agar Indonesia tak usah menggantinya, Soeharto tetap memutuskan menggantinya, bahkan dengan kualitas yang lebih baik. Bagi Singapura, Soeharto adalah orang yang bisa dipercaya," tutur Desker.
Ia tidak menutup mata bahwa pada menjelang akhir masa jabatannya muncul kesan Soeharto yang korup, yang melanggar hak asasi manusia, dan antidemokrasi. Namun, akhir-akhir ini, terutama ketika Soeharto sakit, terlihat begitu banyak pejabat Indonesia yang menjenguknya.
"Menjadi pertanyaan, apakah Soeharto itu buruk dan semua legacy-nya negatif? Saya kira kalau dilihat dari perspektif bangsa- bangsa Asia Tenggara ia adalah tokoh yang pantas dihormati," ujar Desker.
Retnowati menjelaskan, buku yang ditulisnya sengaja dibuat dalam bahasa Inggris agar masyarakat dunia mengetahui sejarah Indonesia. Selama ini ia melihat kebanyakan buku-buku tentang Indonesia hanya berbicara kepentingan dalam negeri saja.
"Saya pribadi juga ingin membuat buku yang kualitasnya buku internasional. Setelah ini tentunya saya mengharapkan buku ini bisa diterbitkan dalam bahasa Indonesia," ujar Retnowati.
Pahami kultur Jawa
Mantan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono memuji buku yang ditulis Retnowati karena bisa mengangkat tokoh yang masih menjadi kontroversi di Indonesia dalam perspektif yang tepat. Penulis bisa memahami nilai, tradisi, dan kultur Jawa secara tepat sehingga pesan yang ingin disampaikan dalam buku itu bisa sesuai dengan apa yang ingin disampaikan.
Soedradjad menilai, bagian dari buku ini yang mengangkat masalah yayasan memberikan informasi yang sangat baik. Di sana bisa dipahami mengenai Presiden Soeharto mengapa sampai membuat yayasan dan apa yang ia inginkan dengan yayasan yang dibentuknya itu.
"Tampak sekali Presiden Soeharto tidak merasa puas dengan kinerja dari institusi formal yang ada. Dengan hadirnya yayasan maka program yang diinginkan, baik untuk membantu pendidikan, mengentaskan kemiskinan, maupun kesehatan bisa berjalan lebih cepat," kata Soedradjad.
Memang kebijakan itu membawa masalah terhadap institusi resmi dan juga terhadap soal transparansi maupun akuntabilitas dari penggunaan dananya. Namun kalau kita ingin menilai kebijakan tersebut, menurut Soedradjad, kita harus melihatnya secara lebih lengkap. (tom)
firdausj
May 25 2007, 09:02 AM
QUOTE
SUARA PEMBARUAN DAILY
TAJUK RENCANA I
"Pinochetkan" Soeharto
Sejak mantan Presiden Soeharto menyerahkan kekuasaan pada BJ Habibie banyak suara yang menuntut agar Soeharto dan para kroninya diadili. Namun sampai sekarang upaya untuk mengadili Soeharto itu belum terwujud, walaupun ada Ketetapan MPR XI Tahun 1998. Peluang mengadili pemimpin rezim Orde Baru ini secara pidana tampaknya sudah tertutup karena alasan kesehatan dan berbagai keputusan lembaga hukum. Sekarang ada upaya menuntut Soeharto secara perdata agar dana yang terhimpun dalam berbagai yayasan yang didirikan dan diketuainya dapat kembali pada negara.
Mengadili Presiden yang berkuasa mutlak selama 32 tahun pasti sukar karena lembaga yang mengadilinya masih dipenuhi oleh orang-orang yang menem-pati kedudukannya semasa Soeharto dan rezimnya berkuasa. Kalau mereka betul-betul mengadili Soeharto dampaknya bisa mengenai diri sendiri, ibarat memercik air comberan ke muka sendiri. Karena itu, upaya mengadili Soeharto selama ini terkesan setengah hati. Bahkan mungkin hanya upaya kosmetis untuk menipu khalayak ramai dengan memberi kesan bahwa yang berkuasa pasca- Soeharto sungguh-sungguh mau menegakkan kebenaran dan keadilan.
Tuntutan perdata juga sekadar memoleskan gincu warna lain untuk menenangkan masyarakat. Kita perlu belajar dari pengalaman Filipina merebut kembali harta Marcos. Hampir pasti Pemerintah Indonesia tidak akan berhasil menuntut kembali dana yang terhimpun dalam berbagai yayasan bentukan Soeharto. Lagi pula kalau kita cermati undang-undang tentang yayasan yang sempat dua kali diperbarui dalam kurun waktu kurang dari lima tahun, tuntutan perdata itu niscaya akan gagal.
Undang-undang yayasan yang baru ini memuat rekaan hukum yang melembagakan pembina sebagai pemilik yayasan. Para pengacara pembela Soeharto akan memanfaatkan undang-undang yayasan ini untuk membebaskannya dari tuntutan perdata. Para pembela akan terdiri dari praktisi hukum unggul yang dibayar mahal dan mampu membayar mahal untuk mengalahkan para jaksa yang kalah cerdik dan kalah dana.
Tujuan mengadili Soeharto yang terpenting bukan untuk merebut kembali dana, bukan pula untuk balas dendam. Namun untuk menegakkan keadilan dan kebenaran dalam membangun bangsa Indonesia sebagai masyarakat yang beradab dan berbudaya.
Kejahatan Soeharto dan rezimnya yang utama selama berkuasa 32 tahun adalah membiarkan dan memerintahkan tindakan yang bisa digolongkan sebagai kejahatan kemanusiaan. Penculikan dan pembunuhan para penentang kekuasaan, menghukum mati para pengganggu keamanan tanpa peradilan ("petrus"), memenjarakan dan membuang ribuan orang tanpa peradilan, tidak menuntut orang yang melakukan genosida politik (pembunuhan ratusan ribu orang karena perbedaan keyakinan politik), merampas hak sipil kelompok masyarakat dengan melarang penggunaan bahasa dan pengungkapan budaya.
Kalau kita mau tumbuh sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya, mengungkapkan kejahatan kemanusiaan ini merupakan proses penjernihan, dan pembelajaran sejarah yang harus kita lakukan agar kejahatan semacam ini tidak terulang lagi dalam kehidupan kita sebagai bangsa. Karena itu Soeharto harus di-Pinochet-kan bukan diperdatakan. Jenderal Pinochet, sampai mati dituntut bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya selama berkuasa di Cile.
Seperti Jenderal Pinochet, Soeharto harus terus digugat tanggung jawabnya atas terjadinya kejahatan kemanusiaan dalam masa pemerintahannya. Para penguasa sekarang dan di masa datang harus tahu bahwa pelaku kejahatan kemanusiaan harus bertanggung jawab atas perbuatannya, berapa pun usia dan betapa pun keadaan kesehatannya. Bahkan para pelaku yang sudah meninggal pun harus diungkap kejahatannya dan dicatat dalam sejarah kebangsaan kita.
[size="4"][/size]
firdausj
Jun 11 2007, 02:19 AM
Senin, 11 Juni 2007,
86 Tahun Soeharto
Oleh Endang Suryadinata
Negara dan Keluarganya
"Barang siapa gagal mengurus keluarga, jangan memimpin negara."
(Pepatah Tiongkok Kuno)
-------------
Pada 8 Juni 2007, Soeharto, bekas pemimpin Orba, genap berusia 86 tahun. Sosok yang terus menjadi buah bibir itu lahir pada 8 Juni 1921. Keluarga dan para pendukungnya tentu berbahagia karena umur panjang adalah anugerah Tuhan.
Sebaliknya, yang anti-Soeharto menyebutnya sebagai kutukan. Sebab, dengan umur panjang itu, Tuhan sebenarnya ingin memberikan kesempatan agar dia bertobat dan segera mengembalikan harta yang dulu dikeruknya dari rakyat.
Tidak tahu bagaimana perasaan Pak Soeharto pada ultahnya ke-86 ini. Rarasanya sangat menarik untuk kembali melihat sosok yang cukup banyak mewarnai sejarah negeri ini.
Soeharto adalah tokoh yang bisa dilihat, ditulis, atau dibaca dari beragam perspektif. Cuma, sejauh ini semua diskripsi, tulisan, atau komentar tentang Soeharto, baik berupa buku maupun artikel di media, lebih banyak menonjolkan sisi politik, hukum, atau yang terkait dengan sepak terjangnya sebagai bekas penguasa Orba terlama (32 tahun).
Saya mencari-cari, kira-kira apa yang jarang atau belum ditulis secara kritis tentang Soeharto. Ternyata, ada satu sisi yang jarang dikemukaan, khususnya di media, yakni bagaimana Soeharto memimpin keluarga dan bagaimana itu berdampak bagi Indonesia yang dipimpinnya.
***
Kita awali saja, ketika Soeharto menjabat sebagai penguasa Orba. Saya masih ingat saat itu (menjelang akhir dekade 60-an dan sepanjang dekade 70-an), pemerintah gemar membagikan kalender bergambar Presiden Soeharto, Bu Tien, dan enam anaknya ke seluruh pelosok negeri.
Mereka tampak bahagia. Pada saat itu putra-putri beliau belum terjun ke dunia bisnis. Tampaknya, Pak Soeharto benar-benar fokus pada kepentingan negara, sementara anak-anaknya yang belum dewasa masih bisa dikendalikan atau dengan kata lain masih bisa diatur.
Karena Soeharto tahu skala prioritas dengan mengedepankan kepentingan negara, tidak heran pada 1970-an hingga 80-an pertumbuhan ekonomi Indonesia begitu luar biasa.
Bahkan, Soeharto mendapat pujian dari banyak kalangan. Misalnya, pada 11 November 1985 di Roma, Soeharto mendapat penghargaan dari FAO karena Indonesia mampu swasembada beras, padahal sebelumnya selalu mengimpor.
Pada 1969 produksi beras Indonesia hanya mencapai 12,2 juta ton, sedangkan 1984 telah mencapai lebih dari 25,8 juta ton. Dalam hal ini, kita memang harus angkat topi pada jasa Soeharto.
Selain yang sinis, kalangan indonesianis di luar negeri juga memuji prestasi Soeharto. Dalam bukunya, Soeharto, Political Biography (Oktober 2001), Robert Edward Elson, profesor di Griffith University, memuji Soeharto sebagai tokoh yang amat penting selama abad ke-20 di Asia.
Secara bertahap, serbahati-hati, dan terencana, Soeharto telah membangun Indonesia baru. Indonesia baru yang dibangun Soeharto melalui tahap-tahap pembangunan berencana telah melahirkan kekuatan baru.
Sayang, ketika anak-anaknya mulai dewasa dan banyak maunya, hal itu juga berpengaruh terhadap Soeharto dalam memimpin negeri ini. Menurut John Monfries (Australian Book Review, Maret 2002), kelemahan Soeharto adalah tidak bisa membedakan kepentingan keluarga dengan kepentingan negara.
Karena kecintaan yang besar terhadap anak-anaknya (dan ini wajar dilakukan seorang ayah), akhirnya Soeharto gagal mengambil jarak antara urusan negara dan keluarga. Akibatnya, tumpang tindih kepentingan pun terjadi. Urusan negara akhirnya menjadi urusan keluarga atau sebaliknya.
Yang konyol, harta negara kemudian juga menjadi harta keluarga Cendana. Yang lebih konyol, orang-orang di sekitar Soeharto saat itu, seperti dikatakan Frans Seda, ikut memperkeruh keadaan dan mencoba mengambil untung dari kedekatan dengan anak-anak Soeharto.
Dari sinilah, lalu muncul kroni-kroni Soeharto yang kenyang dengan KKN. Kemudian, kekayaan alam Indonesia, mulai hutan dan tambangnya, diekspolitasi demi kepentingan segelintir kroni itu. Ambruknya moralitas pun dimulai, ketika segala-galanya bisa diatur dengan uang mengingat kedekatan atau ada akses ke anak-anak Soeharto.
***
Ketika menghindar dari Orba dan tinggal di Belanda, Adnan Buyung Nasution beberapa kali menyebutkan gara-gara tidak bisa mengendalikan anaknya, Pak Harto tega menjadikan Indonesia kembali menjadi bangsa budak yang bersikap kawula dengan menumbuhkan kembali feodalisme.
Soeharto mengagung-agungkan "bapakisme" yang kesemuanya menjadikan bangsa ini semakin bodoh, pasrah, dan rendah diri sehingga semakin jauh dari sikap egaliter dan percaya diri.
Yang tentu tidak bisa kita lupakan, gara-gara salah urus anak itu, akhirnya kebesaran dan kebaikan yang ditorehkan Soeharto ternoda atau hilang serta dilupakan. Ibarat musim gugur di Belanda, mentari siang lekas berlalu digantikan malam pekat yang panjang.
Tidak heran, hingga kini, masih ada pihak yang menyesal mengapa Soeharto memilih mundur pada 21 Mei 1998, kenapa bukan pada Mei 1986 atau 1987. Jika mundur pada tahun-tahun itu, sejarah akan mencatat sepak terjang Soeharto dengan tinta emas.
Tapi, karena Soeharto tidak mundur pada 80-an, pepatah Tiongkok kuno di atas rasanya menjadi pesan yang tepat untuk direnungkan kembali oleh Soeharto, keluarganya, dan para penguasa pasca lengsernya Soeharto.
Begitulah, memang selalu ada yang baik dan buruk dalam kehidupan. Jika menyadari sepak terjang anak-anaknya, seperti perceraian terbaru Tommy dan Bambang, the smiling general yang sudah renta itu layak disebut sebagai the crying general.
Endang Suryadinata, peminat sejarah Indonesia-Belanda, alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam
IdiotMalay
Sep 19 2007, 04:04 AM
Hahahaha... Your ex leader is the "best" corruptor in the world history ....
How can you still treat him like "God" .. ?
QUOTE
New York (ANTARA News) - Mantan Presiden Soeharto menempati urutan pertama daftar pemimpin politik dunia yang diperkirakan mencuri kekayaan negara dalam jumlah besar selama kurun waktu beberapa puluh tahun terakhir.
Daftar tersebut tercantum dalam buku panduan yang dikeluarkan oleh PBB dan Bank Dunia bersamaan dengan peluncuran Prakarsa Penemuan Kembali Kekayaan Yang Dicuri (Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative di Markas Besar PBB, New York, Senin.
Peluncuran prakarsa dihadiri oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon, Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick, dan Direktur Kantor PBB untuk masalah Obat-obatan terlarang dan Kejahatan (UNODC) Antonio Maria Costa, serta para pejabat tinggi sejumlah negara anggota PBB, termasuk Deputi Watap RI untuk PBB, Adiyatwidi Adiwoso, dan Direktur Perjanjian Internasional Deplu-RI Arif Havas Oegroseno.
Daftar tersebut mencantumkan 'Mohamad Soeharto (1967-1998)' pada urutan teratas tabel "Perkiraan Dana yang Kemungkinan Dicuri dari sembilan Negara', dengan kekayaan yang diperkirakan dicuri Soeharto berjumlah 15 miliar dolar hingga 35 miliar dolar AS.
Temuan PBB-Bank Dunia itu menyebutkan perkiraan total PDB Indonesia setiap tahunnya pada rezim Soeharto 1970-1998 sebesar 86,6 miliar dolar AS.
Indonesia, seperti yang diungkapkan Arif Havas Oegroseno, akan mengajukan permintaan bantuan kepada StAR Initiative untuk berusaha mengembalikan kekayaan negara yang diperkirakan dicuri Soeharto.
Menurut rencana, Havas pada Jumat (21/9) akan bertemu dengan pihak Bank Dunia di Washington DC untuk membahas rencana Indonesia tersebut.
Pembahasan di Washington nanti, kata Havas yang ditemui sebelum peluncuran StAR Initiative, akan berkisar kepada penaksiran kemungkinan mengumpulkan kembali kekayaan yang diperkirakan dicuri Soeharto serta langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan setelah itu.
Dengan demikian, saat ini belum diketahui di mana saja kekayaan yang diperkirakan dicuri Soeharto tersebar dan dapat dikumpulkan kembali.
Sementara itu, mengenai bantuan apa yang dapat diberikan kepada negara-negara yang ingin mengumpulkan kembali kekayaan negara yang dicuri oleh pemimpin politik mereka, Presiden Bank Dunia Robert B. Zoellick mengungkapkan bahwa StAR Inisiatif dapat membantu memperkuat kemampuan tim nasional suatu negara untuk mengembalikan harta yang dicuri.
Untuk itu, ujar Zoellick, diperlukan antara lain dukungan perundang-undangan di negara yang bersangkutan, pelatihan dan peningkatan kemampuan bagi pihak-pihak terkait di bidang hukum serta kerjasama antar-negara dalam mengumpulkan kembali kekayaan yang diparkir di suatu negara tertentu.
Berkaitan dengan itu, ketika menjawab pertanyaan, Direktur UNODC Antonio Maria Costa mengatakan, pengembalian kekayaan yang diparkir di luar negeri juga akan memerlukan perjanjian ekstradisi antara negara-negara yang bersangkutan.
Selain Soeharto, pemimpin politik dunia lainnya yang diperkirakan mencuri kekayaan negara adalah Ferdinand Marcos dari Filipina (1972-1986) dengan 5-10 miliar dolar AS; Mobutu Sese Seko dari Zaire (1965-1997) dengan lima miliar dolar AS; Sani Abacha dari Nigeria (1993-1998) dengan 2-5 miliar dolar AS serta Slobodan Milosevic dari Serbia/Yugoslavia (1989-2000) dengan satu miliar dolar AS.
Di bawah mereka, terdapat nama Jean-Claude Duvalier dari Haiti (1971-1986) yang diperkirakan mencuri 300-800 juta dolar AS; Alberto Fujimori dari Peru (1990-2000) dengan 600 juta dolar AS, Pavio Lazarenko dari Ukraina (1996-1997) dengan 114 hingga 200 juta dolar AS; Arnoldo Aleman dari Nikaragua (1997-2002) dengan 100 juta dolar AS dan Joseph Estrada dari Filipina (1998-2001) dengan 70 hingga 80 juta dolar AS.
Daftar 'Perkiraan Dana yang Kemungkinan Dicuri dari sembilan Negara' disiapkan oleh Transparency Internasional (TI) dan Bank Dunia.
Namun menurut TI, pemimpin dunia yang tercantum dalam daftar tersebut tidak berarti menjadi sembilan pimpinan dunia terkorup.
TI juga mengungkapkan bahwa sumber-sumber yang dijadikan bahan untuk membuat daftar tersebut didapat melalui informasi dari berbagai media massa.
Satu-satunya informasi yang didapatkan secara resmi dari sumber suatu negara adalah dari Peru, yaitu berkaitan dengan kemungkinan keterlibatan Alberto Fujimori dalam menghilangkan kekayaan negara tersebut.
Menurut catatan PBB-Bank Dunia, Filipina akhirnya memperoleh kembali 624 juta dolar dari uang yang diparkir Ferdinand Marcos di Swiss.
Antara Agustus 2001-2004, Peru dapat memperoleh kembali sekitar 180 juta dolar yang dicuri oleh Vladimiro Montesinos dari beberapa tempat, seperti Swiss, Cayman Islands dan Amerika Serikat.
Nigeria antara September 2005 dan awal tahun 2006 berhasil mengumpulkan kembali 505 juta dolar AS dari Sani Abacha, yang kekayaannya dibekukan oleh pihak berwenang Swiss.
Pada Juli 2006, pihak berwenang Inggris mengembalikan 1.9 juta dolar AS yang dicurigai sebagai aset yang dikumpulkan secara ilegal oleh Diepreye Alamieyeseigha, Gubernur Bayelsa, negara bagian di Nigeria yang dikenal kaya akan minyak.
Namun PBB-Bank Dunia mengingatkan bahwa pengembalian aset negara yang dicuri akan sangat memakan waktu, memerlukan kredibilitas dan upaya yang berkelanjutan serta keinginan politik yang kuat dari suatu negara.(
beranjakdewasa
Nov 24 2007, 04:02 AM
Soeharto ofcourse the worst president in Indonesia...
Thats what came up when a country have one president in a long term periode...
doesn't want to give up the position.
DutchEastIndiesMan
Nov 25 2007, 02:00 AM
Well...I'm not sure....He did keep everyone united right ? but he also prosecuted Chinese and we got lots of debt because of him...I guess he is neither Hero or Crook....he is just a bad president like every one else except SBY and Sukarno before he became bias and dictating.
P.s SBY is not very good, he is OK !!!
theaccidentaltourist
Jan 15 2008, 09:30 PM
He syphoned billions of dollars to private accounts of his owns and his cronies for years,
but he declared himself of "not having a single cents" in his pocket. You got that right...,
not in his pocket but rather in numerous accounts domestically and abroad which over the
years earned this devil incarnate and his cohorts even much more money.
He killed millions of people, starting from the mid sixties, his first hundred thousands of
victimes were what he coined as communists and communist symphatizers. His bloody
hands continued reaping victims after victims over the next three decades: the achenese,
the chinese, the irianese, the timorese, and the list goes on.
His cronies in the high places had helped to prevent him from being brought to justice
for so long. Many people far removed from the brutal episodes of Suharto's era might
not even remember. They might even care less. The cry and sorrow of millions
who directly or indirectly victimized by this atrocious despot might have gone unnoticed
to these people, but one day it will come front and center again. It might be seen Suharto
is beyond the reach of this country's corrupt and appaling court of law. However, we shall
rejoice that the Supreme Judgment from the Above will happen eventually. It will only take
time.
Fast forward to the present, he clings to his life amidst the assistance of the latest medical
equipments. It makes one wonders: what is the purpose of all these delays? Was he so afraid
to face all those victims he helped murdered and killed had he died now? But, no...,
rather..., If God is the Most Merciful and Gracious, God is also the Most Swift and Certain with
His punishments. Suharto is now facing what many religious authority call the long retributions
before his final demise, the long torturous journey to the death. Indeed, what goes around
comes around.
The Accidental Tourist
Bhaskara
Jan 15 2008, 10:21 PM
I think it's not fair for him to die on us now, it would be a blemish on Indonesia's vow against corruptors.
snoopy
Jan 23 2008, 09:40 AM
Too right.
Hopefully, the government (with the assistance of international anti-corruption agencies) can one day recover the millions he siphoned from the country, albeit it, a little late. As he desperately tries to fight off the inevitable, I hope he does feel an ounce of remorse for the atrocities his regime was responsible for. Lets hope his children and cronies foot the bill.
jrockerz
Feb 3 2008, 02:36 AM
QUOTE(IdiotMalay @ Sep 19 2007, 04:04 AM) [snapback]3217971[/snapback]
he has massacre 500.000 to 1 mil ppl
he worshipped by US and other western administration.
got 7 awards from 7 countries.
he died in glory
yet I have to admit that he given the nation good stability and development at his time
he was every dictators/corrupter dream.
wellcome to the worlds politics
vsovereign
Apr 7 2008, 01:09 PM
total crook!
unable to distinguished between what's his & what's the state's
this guy should be given AT LEAST the same treatment he gave Sukarno (house arrest+vetenarian instead of doctor)
at worst he should've been shot!
I couldn't comprehend how many people still consider him good
hearing the oh-so-flowery words during his funeral made me want to smash the TV
virginhunter
Jul 18 2008, 11:37 AM
i rather say he's a villain than hero.if we take some step back to history (real history i mean),soeharto's concept of ruling is by struck the fear into hearts of people,so none would oppose him.it's true that under his leadership Indonesia became a good country,but with Billion dollars utang (utang inggrisnya apa ya?lupa

) behind it..
DutchEastIndiesMan
Jul 18 2008, 12:23 PM
Utang = Debt pronunciation 'Det'
skyisdalimit
Jul 19 2008, 12:54 AM
^^ chey chey... someone is an english expert here. hahaha.
Joko
Sep 17 2008, 05:13 AM
Soeharto is absolutely the worst criminal in the world. And the most corrupt person in the world.
And, no one can even touch him and his family.
I believe we should nominate him as " the world miracle". The best miracle in the world.
jeirin
Mar 22 2009, 10:47 AM
in my opinion, as a president
who gets paid by his country it is
his duty to make his country a wealth and successfull one. So if there's people who thinks that Soeharto is a hero i would say NO he isn't!!! cause a hero would
DIE for FREE for his country and his people and willing to give up his live for his country's freedom, not slaved them.
Just like a manager in a company who gets paid to make his company success and if the manager fails then the company have to fired him. And that is what we didi to Seoharto only we had to force him to do that
ps : harga barang murah tapi dibayarin dengan hutang juga bukan suatu pencapaian sukses seorang presiden, semua orang juga bisa membuat harga barang2 negaranya murah jika dia berhutang dan menyebabkan soeharto menjadi jelek adalah ternyata kita tidak bayar kembali hutang kita ke IMF (mismanajemen yang buruk sekali)
Indonbali
Nov 2 2009, 08:18 AM
QUOTE (theaccidentaltourist @ Jan 15 2008, 09:30 PM)

He syphoned billions of dollars to private accounts of his owns and his cronies for years,
but he declared himself of "not having a single cents" in his pocket. You got that right...,
not in his pocket but rather in numerous accounts domestically and abroad which over the
years earned this devil incarnate and his cohorts even much more money.
He killed millions of people, starting from the mid sixties, his first hundred thousands of
victimes were what he coined as communists and communist symphatizers. His bloody
hands continued reaping victims after victims over the next three decades: the achenese,
the chinese, the irianese, the timorese, and the list goes on.
His cronies in the high places had helped to prevent him from being brought to justice
for so long. Many people far removed from the brutal episodes of Suharto's era might
not even remember. They might even care less. The cry and sorrow of millions
who directly or indirectly victimized by this atrocious despot might have gone unnoticed
to these people, but one day it will come front and center again. It might be seen Suharto
is beyond the reach of this country's corrupt and appaling court of law. However, we shall
rejoice that the Supreme Judgment from the Above will happen eventually. It will only take
time.
Fast forward to the present, he clings to his life amidst the assistance of the latest medical
equipments. It makes one wonders: what is the purpose of all these delays? Was he so afraid
to face all those victims he helped murdered and killed had he died now? But, no...,
rather..., If God is the Most Merciful and Gracious, God is also the Most Swift and Certain with
His punishments. Suharto is now facing what many religious authority call the long retributions
before his final demise, the long torturous journey to the death. Indeed, what goes around
comes around.
The Accidental Tourist
Ex-President Suharto is the representative of majority Indonesians.
Full of blood, dirty money, corrupt power and no good consciousness at all
ataturk
Nov 3 2009, 09:05 AM
^ Wow, you sure are full of pompous arrogance by having the gall to bash every one of the 240 million Indonesians as bad people.
Majapahitans
Nov 3 2009, 12:05 PM
QUOTE (ataturk @ Nov 3 2009, 10:05 AM)

^ Wow, you sure are full of pompous arrogance by having the gall to bash every one of the 240 million Indonesians as bad people.
Ataturk... I sense "it" just anuther lame Indonesia-hater,

maybe separatist supporters. Although all entitled of freedom of speech, I don't think its wise to feed the troll. Let it stay under the bridge where it belongs.
Indonbali
Nov 8 2009, 04:15 AM
QUOTE (ataturk @ Nov 3 2009, 09:05 AM)

^ Wow, you sure are full of pompous arrogance by having the gall to bash every one of the 240 million Indonesians as bad people.
I said, MAJORITY Indonesians are corruptors, not all Indonesians are corruptors. Check out my writing before.
And your current Finance Minister: Sri Mulyani said that 93% of total government officials are Corruptors.
If 93% government officials are thieves, we can say that Majority Indons are corruptors.
Dont' be too sensitive, do reality check. It is the fact !
londoh
Nov 8 2009, 05:22 AM
QUOTE (Majapahitans @ Nov 3 2009, 01:05 PM)

Ataturk... I sense "it" just anuther lame Indonesia-hater,

maybe separatist supporters. Although all entitled of freedom of speech, I don't think its wise to feed the troll. Let it stay under the bridge where it belongs.
Hi Mas Maja,
I never thought you were so narrow-minded, you talk about “freedom of speech” but in the same sentence about a ban. This seems a contradictio in terminis to me. The guy says things that are true, your problem, and that of many Javanese is that they don’t want to hear things like that. It is “not done” to speak like this or criticize Javanese behaviour. The reaction is always very arrogant, what Javanese themselves call “overacting”
Majapahitans
Nov 8 2009, 06:40 AM
QUOTE (londoh @ Nov 8 2009, 05:22 AM)

Hi Mas Maja,
I never thought you were so narrow-minded, you talk about “freedom of speech” but in the same sentence about a ban. This seems a contradictio in terminis to me. The guy says things that are true, your problem, and that of many Javanese is that they don’t want to hear things like that. It is “not done” to speak like this or criticize Javanese behaviour. The reaction is always very arrogant, what Javanese themselves call “overacting”
What can I say is everyone have right to have opinions and freedom of speech. And choosing to ignoring and not to speak is indeed exercising a freedom of (not) speech too.
And I didn't sentence a ban at all, just healthy dose of ignorance.
I have encounter alot of this kind of dude in the net. They don't want a discussion in good manner of mutual respect, they've set their mind in "attack mode", their agenda and mind is already setted on disliking or hating something. Wheater it be Islam-hater, Indonesia-hater, or Indonesia-separatist sympathizer etc.
Try to discussing or reasoning with them are kinda frustating and impossible. And "ignore" button is works for me...
Discussing politics without ourself having mutual respect, having actual power to change, or without any actual experience, is leading to nowhere.
"Debat kusir, buang-buang tenaga Oom..."
ataturk
Nov 8 2009, 07:29 AM
@indonbali: We are the world's 15th largest economy in the world, with 3rd fastest growth rate amongst major world economies. Our people are wealthy enough to consume and support this growth. We are being praised by the international community for these accomplishments. Our anti-corruption efforts are being praised worldwide. These accomplishments would not happen if your childish generalisations is true.
londoh
Nov 8 2009, 10:49 AM
QUOTE (Majapahitans @ Nov 8 2009, 07:40 AM)

What can I say is everyone have right to have opinions and freedom of speech. And choosing to ignoring and not to speak is indeed exercising a freedom of (not) speech too.
And I didn't sentence a ban at all, just healthy dose of ignorance.
I have encounter alot of this kind of dude in the net. They don't want a discussion in good manner of mutual respect, they've set their mind in "attack mode", their agenda and mind is already setted on disliking or hating something. Wheater it be Islam-hater, Indonesia-hater, or Indonesia-separatist sympathizer etc.
Try to discussing or reasoning with them are kinda frustating and impossible. And "ignore" button is works for me...
Discussing politics without ourself having mutual respect, having actual power to change, or without any actual experience, is leading to nowhere. "Debat kusir, buang-buang tenaga Oom..."
Nice story Mas, but what you did is quite a dirty way of reacting. I have been told by an old man who had stayed long time on Java. Be aware,!! (Awas) Javanese are the only people in the wortld who wear their weapon on their backs. You are an example. You got a very dirty way to place people in a place where they look wrong, it has nothing to do with objectivity, you count on Indonesian sentiment from the other Indonesians here. What a mess that kind of thinking, real dirt that has to be thrown in the garbage can.
londoh
Nov 8 2009, 10:52 AM
QUOTE (ataturk @ Nov 8 2009, 08:29 AM)

@indonbali: We are the world's 15th largest economy in the world, with 3rd fastest growth rate amongst major world economies. Our people are wealthy enough to consume and support this growth. We are being praised by the international community for these accomplishments. Our anti-corruption efforts are being praised worldwide. These accomplishments would not happen if your childish generalisations is true.
And so what ?? Where are you talking about. The funniest thing are "the efforts" every Javanese is corrupt, it is hidden in their small balls. I have never seen so much poverty and arrogance in my life as on Java.
Kresna
Nov 8 2009, 01:43 PM
QUOTE (londoh @ Nov 8 2009, 04:52 PM)

And so what ?? Where are you talking about. The funniest thing are "the efforts" every Javanese is corrupt, it is hidden in their small balls. I have never seen so much poverty and arrogance in my life as on Java.
If you despise Indonesia so much, then what on earth are you doing on a internet messageboard for Indonesian ABG's and twenty-somethings??? You are pathetic and just another irrelevant Blok M type of bule.
londoh
Nov 8 2009, 02:07 PM
QUOTE (Kresna @ Nov 8 2009, 02:43 PM)

If you despise Indonesia so much, then what on earth are you doing on a internet messageboard for Indonesian ABG's and twenty-somethings??? You are pathetic and just another irrelevant Blok M type of bule.
Some people felt their asses burnt because there is some opinion about their country. They still are stuck in the "Demokrasi Pemimpin" of their hero Soekaro, 50 years ago. What a mess, but if you are happy with it I just say "Silakan aja", it is your country, not mine.
londoh
Nov 8 2009, 02:10 PM
QUOTE (Kresna @ Nov 8 2009, 02:43 PM)

If you despise Indonesia so much, then what on earth are you doing on a internet messageboard for Indonesian ABG's and twenty-somethings??? You are pathetic and just another irrelevant Blok M type of bule.
He I see you are living di Ngeri Penjaja, what you are doing here, illigal cleaning toilets for 5 euro an hour ? Great fun isn't it. Call me and we'll have a teh otak together.
Kresna
Nov 8 2009, 02:43 PM
QUOTE (londoh @ Nov 8 2009, 08:10 PM)

He I see you are living di Ngeri Penjaja, what you are doing here, illigal cleaning toilets for 5 euro an hour ? Great fun isn't it. Call me and we'll have a teh otak together.
No, I'm a studentnurse working my @$$ off every single day to take care of my patients despite a shortage in qualified staff. I'm also damn proud of that.
JoeRagan
Nov 8 2009, 06:12 PM
QUOTE (londoh @ Nov 8 2009, 10:52 AM)

And so what ?? Where are you talking about. The funniest thing are "the efforts" every Javanese is corrupt, it is hidden in their small balls. I have never seen so much poverty and arrogance in my life as on Java.
QUOTE (Kresna @ Nov 8 2009, 01:43 PM)

If you despise Indonesia so much, then what on earth are you doing on a internet messageboard for Indonesian ABG's and twenty-somethings??? You are pathetic and just another irrelevant Blok M type of bule.
Yay dat explains it, in ABG's lingo: Londoh "benci (bener bener cinta)" Indonesia !
but gotta admit he's got one big cohone!
londoh
Nov 9 2009, 01:30 AM
QUOTE (JoeRagan @ Nov 8 2009, 07:12 PM)

Yay dat explains it, in ABG's lingo: Londoh "benci (bener bener cinta)" Indonesia !
but gotta admit he's got one big cohone!

You are perfectly right, I have noting to do between a bunch of little facsists, time to quit.
Majapahitans
Nov 9 2009, 04:55 AM
QUOTE (londoh @ Nov 8 2009, 11:49 AM)

Nice story Mas, but what you did is quite a dirty way of reacting. I have been told by an old man who had stayed long time on Java. Be aware,!! (Awas) Javanese are the only people in the wortld who wear their weapon on their backs. You are an example. You got a very dirty way to place people in a place where they look wrong, it has nothing to do with objectivity, you count on Indonesian sentiment from the other Indonesians here. What a mess that kind of thinking, real dirt that has to be thrown in the garbage can.
My soo called "dirty" reaction is after examining the indonbali posts in other threads that I finds all are in "attack mode" and sinister tone. So I decided to sling a dirt on it.
Unlike you Oom Lon, although you sometimes have negative and "sinical" view and opinion that can make a proud Indonesian Javanese's thin-ear turn to dark-red, somehow you have rights, because (unfortunately) you experience it yourself, and you have honesty and sincerety in that. Sometimes you also have some neutrality and positive opinion too, and because of that I appreciate your POV. Seeing Indonesia in foreign unflattering eyes, I think maybe it's good for reality-check.
Unlike random hater from nowhere whom didn't even know, understand, or ever live in Indonesia, and actively decided to have Indonesia-bashing for breakfast, and attack based on separatist propaganda on the net. It is wasting time to deal with them.
I'm aware of your stereotypical Javanese "politics" that
"Keris ning Mburi" things... Somehow I can understand that, because Javanese indeed have long recorded history of cunningness. From Ancient Hindu-Buddhist Mataram, Singhasari, to Majapahit, from Sultanate of Demak, Pajang, Jipang, and Mataram, all are full of example of politics dirts of undirect and tactics with all that
"tipu daya". The more flatering tone is; Javanese have "sophisticated politics" since ancient times, probably rivaled only by ancient China or Rome. Sophisticated politics may equal to dirty conspiracy. Here we taught in history that Mataram is dominated/
"dijajah" by VOC (Kompeni), actually I believe it was Kompeni whom being absorbed into whirpool of Mataram dirty partisan politics and involved in struggle of power of the rival princes. And Kompeni play their card quite good with equal cunningness.
Somehow it frustate me too (to deal with Javanese) because everything is not what it seems..., Then again it's all because of "undirecness" and it is consider rude and blatant (even barbaric) for one to be bare souled, open book, or display shallow emotions. Always using undirectness to be polite and discreet, but this can be perceive as deceiving, even back stabbing.
Kresna
Nov 9 2009, 03:17 PM
QUOTE (londoh @ Nov 9 2009, 07:30 AM)

You are perfectly right, I have noting to do between a bunch of little facsists, time to quit.
JoeRagan
Nov 9 2009, 09:37 PM
Mas Maja n Bung Lon it’s been very interesting to read many of your postings/comments about Indo history, it is like we are witnessing the changing of a text book history unfolding before our eyes.
We know that Republiken as well as Kumpeni to a certain degree both suffer from and guilty of inexactitude of tempo doeloe history,
but Indonesia as the winner got to write the history her own version and the looser can only refute bitterly to the end.
The cycle continues and repeated until peeps like u share ur “balanced” side.
And truth be told –not to negate the spectacular kemajuan2 so far -there are still troubles in paradise like the real looser is always the much touted "rakyat kecil" who still don’t get their share of the pie of prosperity that only the elites can get hold of.
But let’s keep hope alive that soon we can change for better despite all the odds.
Keep on da good vibes you are ok guys in my book.
Indonbali
Nov 15 2009, 04:54 AM
According to United Nations and Word Bank, Ex-President Suharto stole people's money around $35 billion dollar in cash. It doesn't include many giant companies in Indonesia owned by Suharto's family. And Suharto is a Javanese.
It means the worst thief in the world is a Javanese.
***************
On the other hand, Javanese or Indons ? always say they are civilized people. They always feel offended when people disclose their bad actions. Javanese always scold other people who dare to speak the truth. It is very strange. Javanese/Indons reminds me to NAZI but not exactly the same.
Germany Nazis are great people. They are highly educated people. They consider themselves as superior race because they have many achievements in the world, better than most other nations. I can understand their extreme chauvinistic feeling as long as they don't attack other people.
However, Javanese/Indons are inferior people. They don't have many achievements in the world. Suharto knew that. So, Suharto routinely and actively brainwashed Indons/Javanese for many decades that Indons/Javanese are great, polite and civilized people via media, newspaper, indoctrinations.
To successfully brainwash Javanese, Suharto needed a scapegoat. Chinese are the perfect scapegoat. They are week, minority, rich, and in that time, China was weak. Suharto brainwashed Javanese that Chinese are foreigners who are stealing their money, wealth and bad people.
You cannot successfully brainwash people if you don't have the "enemy". You must can "compare" between two parties, between Javanese and Chinese. By spreading racist prejudices that Chinese are bad people, Suharto successfully brainwash Javanese that they are great/good people.
But, Suharto needs to tightly control the media in Indonesia, kick out all foreign medias who dare to speak the truths and did all kinds of rubbish indoctrinations on Indons everyday, every time, everywhere to make the brainwashing work.
And it works well.
*********************
However, when Suharto was toppled by his own people in 1998, suddenly, all medias can speak freely. No more indoctrinations. Freedom at last !!
And, gradually people started to realize that they are not as "great" as they used to be under Suharto's rule.
People started to realize that they actually are inferior, lazy, corrupt, racist and full of violences.
It hurts the feelings of Javanese so bad !!
Cannot handling the truths, Javanese/Indons start to make denials, try to keep brainwash themselves that they are "great" people and scold other people who dare to speak the truth.
In reality, Indons still have no world class achievements, compare with other nations/races.
It is as if Indons are inferior Nazis. Declaring themselves that they are great people, but they don't have real great achievements in the world.
***************************
See.......
Now we all can understand why Indons still don't feel guilty eventhough they are the most corrupt people in the world. The extreme brainwashings which happened for many decades under Suharto's rule cannot be abolished just in 10 years. It takes 1 generation to make Indons realize who they really are...
Indons are already get used to be brainwashed by Suharto. When the brainwashing suddenly stopped, it is just like people throw cold water to Javanese who are having good dream in their sleep. When they woke up, they don't like the realities, they want to come back to sleep, having good dreams.
But, life doesn't work that way.
You cannot keep brainwashing yourselves forever.
You need to deal the problems and face the facts.
ataturk
Nov 15 2009, 06:51 AM
^ Haha.. Comparing Javanese with Nazis are the most ridicilous thing I've heard so far. You never fail to amuse me.
The Javanese culture is as different and as far away you can get from Germanic Nazi culture. The Javanese people are well-known for being low-profile and lacking in any kind of chauvinism.
Imagine, despite making-up 60% of Indonesia's population, Javanese language was never forced to be national language.
Compare this with Adolf Hitler who seek to "Germanize" Europe and seek to exterminate people just because they have non-Germanic cultural or racial background (Jews, Gypsies, Poles, Slavs, basically anyone not German).
With regards to brainwashing, I suggest you stop brainwashing yourself with your infantile hate for Javanese and Indonesians. Deal with the fact that Indonesia is the world's 15th largest economy in the world with one of the fastest growth rate, fuelled mostly by Indonesians' own domestic consumption. Indonesia is also the world's third-largest democracy despite the initial difficulties of the post-Suharto years. That's why Indonesia is widely praised by the international community as a success story.
You need to get over your irrational hatred and face the facts.
Indonbali
Nov 29 2009, 03:55 AM
QUOTE (ataturk @ Nov 15 2009, 06:51 AM)

^ Haha.. Comparing Javanese with Nazis are the most ridicilous thing I've heard so far. You never fail to amuse me.
The Javanese culture is as different and as far away you can get from Germanic Nazi culture. The Javanese people are well-known for being low-profile and lacking in any kind of chauvinism.
Imagine, despite making-up 60% of Indonesia's population, Javanese language was never forced to be national language.
Compare this with Adolf Hitler who seek to "Germanize" Europe and seek to exterminate people just because they have non-Germanic cultural or racial background (Jews, Gypsies, Poles, Slavs, basically anyone not German).
With regards to brainwashing, I suggest you stop brainwashing yourself with your infantile hate for Javanese and Indonesians. Deal with the fact that Indonesia is the world's 15th largest economy in the world with one of the fastest growth rate, fuelled mostly by Indonesians' own domestic consumption. Indonesia is also the world's third-largest democracy despite the initial difficulties of the post-Suharto years. That's why Indonesia is widely praised by the international community as a success story.
You need to get over your irrational hatred and face the facts.
You misunderstood me.
Actually, comparing you Indonesians with Nazi is an insult for Nazi.
Nazi are racist people, they know that. They are proud of their racist attitudes toward non Germany. They consider themselves as superior race, because they really have great qualities as human beings. Germany Nazi excel in most aspect of life, such as: technology, culture, education, military and so on.
On the contrary, you Indons are racist to Papuas, Chinese, White people, Black people, and toward other races. You Indons consider yourselves are superior than other races. However, in reality, you Indons have no achievements at all. You Indons have weak military, bad education system, inferior culture, low class technology. You Indons have nothings to be proud.
I don't think Javanese have low-profile attitude and are not chauvinistic to other people. If Indonesians have low profile attitude and not chauvinistic to other people, there will be no racist attacks toward White people, Chinese, Papuas and Blacks. The facts are: the inferior attitude of Indons are misunderstood as low profile attitude. It is because inferior and low profiles attitudes almost have the same kind of actions. Both attitudes are almost similar in their applications.
And we can imagine what happen to a kind of people who are inferior and chauvinistic in the same time. That kind of people will keep brainwashing themselves that they are superior people and attack other races who dare to speak the truth. Indons are a good example.
You Indons depend on Chinese to survive. Without Chinese, Indonesia will collapse. Just like what happen in May 1998. When you Indons racistly attack Chinese, your economy badly went down. You guys are sick people of Asia.
It is really amusing when we think about Indonesia.
How can a kind of people like Indons claim they are great people and having racist mentality to other races. To have racist mentality to other races, you Indons must have world class achievements, better than other races. In fact, Indonesians are famous for not having world class achievements.
Nazi will laugh to its imitator, Indons -- loudly....
ataturk
Nov 30 2009, 01:49 PM
QUOTE
Nazi are racist people, they know that. They are proud of their racist attitudes toward non Germany. They consider themselves as superior race, because they really have great qualities as human beings. Germany Nazi excel in most aspect of life, such as: technology, culture, education, military and so on.
So you are a Nazi-admirer

You must really admire their efficiency in murdering Jews, aight?
So silly, someone claiming to be Papuan separatist getting their inspiration for chauvinism from the white-supremacist Nazis.

Look, Indonesians never claim to be "superior race" or whatever. Indonesian govt objective is just trying to make life better for its citizens via economic growth, in which we have been recognised by international community as being particularly successful.
As of your bizzare "attacks" against Indonesians being Nazis or whatnot, do you really expect people to take you seriously? You remind me of some infant having a fit. You're just an arrogant little boy who does not like his impolite behaviour being criticised. Tsk tsk..
elleX0
Dec 1 2009, 03:02 PM
*
materialgurl
Dec 22 2009, 03:23 AM
QUOTE (ataturk @ Dec 1 2009, 01:49 AM)

You remind me of some infant having a fit. You're just an arrogant little boy who does not like his impolite behaviour being criticised. Tsk tsk..
indonbali just a troll trying to look smart as if he's REAL papuan but NOT. liar liar your pants on fire.
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please
click here.