Does anyone know the status of the NMX-1 project? (joint venture with PT Dirgantara Indonesia)
Sabtu, 21 Agustus 2004
Projek Pesawat NMX-1 Batal?
PT DI Diminta Alihkan Produksi ke Malaysia
BANDUNG, (PR).-
Projek kolaborasi Indonesia-Malaysia atas pembuatan pesawat eksekutif bermesin jet NMX-1 terancam batal, menyusul persoalan yang muncul antara kedua pihak. Ini disebabkan Malaysia selaku pemodal, kemudian ngotot ingin mengalihkan tempat produksi ke negara mereka.
Sejumlah sumber di PT Dirgantara Indonesia, baru-baru ini menyebutkan, akibat kondisi demikian, belum jelas lagi kelanjutan projek bersangkutan. Saat ini, projek NMX-1 baru memasuki pre-eliminary design, namun rencana semula direncanakan prototipenya sudah roll-out (diperkenalkan kepada umum) tahun 2005.
"Malaysia sejauh ini belum mempunyai kemampuan, industri atau tempat yang dianggap memenuhi syarat pembuatan pesawat terbang. Di mana mereka akan membuat pesawat NMX-1? Kami juga mencurigai ada itikad lain dari pihak Malaysia, mengapa mereka begitu ngotot mengalihkan pembuatan NMX-1, yang sesuai kesepakatan semula akan dibuat di pabrik PT Dirgantara Indonesia (DI) Bandung," ujar seorang pejabat PT DI.
Disebutkan rekannya, produk NMX-1 merupakan pesawat jet eksekutif bermesin dua jenis turbojet. Pesawat bersangkutan dirancang untuk dapat membawa enam orang penumpang, dan mengincar pasar di Asia. Dalam projek itu, Indonesia dalam hal ini PT DI selaku perancang dan pembuat, sedangkan Malaysia selaku pemodal.
"Inilah susahnya kalau perusahaan sedang kolaps, keinginan sangat banyak dan kemampuan kami rasa ada. Namun karena persoalan finansial dan manajemen, membuat kami harus didikte pemodal, yang celakanya negara lain," keluhnya.
Jika pesawat NMX-1 jadi dibuat, informasi yang diperoleh, nantinya akan mengincar pasar di antara produk-produk sekelas, misalnya Beech dan Cessna buatan AS, Embraer Brasil, dll. Salah satu andalan untuk menarik minat pasar Asia, NMX-1 ditawarkan dengan harga lebih murah namun kemampuan dan kenyamanan tak berbeda jauh dengan kompetitornya.
Apa yang terjadi dalam projek produksi pesawat di Indonesia (PT DI)? Dikatakannya, terasa menyedihkan jika dibandingkan potensi dan kemampuan yang ada. Secara teknis, banyak tenaga di PT DI dinilai dan terbukti memiliki kemampuan, namun secara manajemen finansial yang masih harus lebih dioptimalkan, seperti yang dialami projek NMX-1 sehingga harus bergantung kepada Malaysia.
Padahal, katanya, PT DI sebenarnya merupakan satu-satunya industri pesawat terbang secara nyata di kawasan Asia. Walaupun negara lain di Asia, seperti India, Jepang, Israel, juga membuat pesawat terbang, mereka hanya bersifat assembling dan pengerjaannya bukan langsung di negara mereka, serta hanya sebagian kecil yang dapat diekspor.
Humas PT DI, Rakhendi Triatna, yang dikonfirmasi, membenarkan bahwa saat ini Indonesia (PT DI) melakukan kerja sama dengan Malaysia dalam pembuatan projek pesawat eksekutif bermesin jet. Namun ia menyatakan belum tahu bahwa projek bersangkutan terancam batal akibat ngototnya Malaysia agar produksinya dialihkan ke negara mereka, serta mengatakan belum mengetahui apa nama atau kode produk bersangkutan. (A-81) ***