Help - Search - Members - Calendar
Full Version: Kehidupan Remaja Malaysia dan Remaja Indonesia
Asia Finest Discussion Forum > Asian Culture > Indonesian Chat
tengkuafif
Apabila diusut sejarahnya, Bangsa pribumi Malaysia dan Bangsa pribumi Indonesia mempunyai nenek moyang yang sama. Tidak banyak perbedaan yang kentara pada kedua bangsa ini pada awal mulanya, tetapi perjalanan waktu telah menciptakan perbedaan yang cukup kentara diantara Bangsa Malaysia dan Bangsa Indonesia.
Hal yang sama juga berlaku pada kaum remaja kedua bangsa tersebut. Lebih banyak persamaan yang ada pada kedua kaum remaja tersebut, baik di sisi positif maupun di sisi negatifnya, daripada perbedaanya. Sebagai contoh, dalam hal yang positif, sebagai bangsa Asia, kedua kaum remaja tersebut masih menjunjung tinggi tata kesopanan pada umumnya. Mereka masih mempunya sebuah panggilan khusus untuk orang yang lebih tua, walaupun berbeda-beda, seperti Kak, Abang, Mbak, Mas, Uda, Kang, dan lain-lainnya.


Ataupun budaya saling kunjung-mengunjungi yang masih banyak dilakukan oleh remaja-remaja Malaysia dan Indonesia. Secara umumnya, tali persaudaraan dan silaturahmi diantara mereka masih kuat, yang juga berakibat akan kuatnya kekompakan dan kesetia kawanan antara satu anak dengan anak lainnya, walaupun terkadang sering disalah gunakan.


Dan dalam hal yang negatif, kedua kaum tersebut masih berbagi satu kelemahan yang membedakan mereka dari kaum remaja negara-negara barat, yaitu keaktifan dan keberanian untuk bertanya. Kaum remaja Indonesia dan Malaysia, yang sebetulnya tidak terbatas pada mereka saja, termasuk juga kaum dewasanya, masih cenderung bersifat pasif untuk mengetahui sesuatu. Sebagian besar dari mereka masih menunggu untuk diberitahu, bertolak belakang dengan prinsip masyarakat barat, yaitu hanya dengan bertanya kita dapat tahu.


Walaupun begitu tentu saja ada perbedaandiantara remaja Indonesia dan remaja Malaysia. Beberapa sifat perbedaan yang cukup kentara diantara kedua remaja tersebut adalah kesopanan, kekreatifan, kedisiplinan, ketertiban cara berpakaian, dan beberapa sifat lainnya. Memang, dalam hal kesopanan, remaja Malaysia dinilai masih lebih sopan daripada remaja Indonesia. Mereka begitu sopan kepada orang tuanya, gurunya, ataupun siapa saja yang lebih tua dari mereka dan mereka hormati. Bandingkan dengan remaja Indonesia, terlebih lagi remaja Jakarta. Mereka bahkan berani untuk menghina gurunya didepan guru itu tanpa merasa malu.


Dari segi kesopanan, remaja Malaysia telah mendapat nilai lebih daripada remaja Indonesia. Tapi bagaimana dari segi kekreatifan? Apakah remaja Malaysia juga dapat mengungguli remaja Indonesia? Apabila kita lihat dari cara hidup remaja Malaysia, rasanya hal itu agak susah tercapai. Cara hidup yang serba mudah di Malaysia secara tidak langsung telah mengurangi kekreatifan remaja Malaysia. Apabila kita melihat kehidupan remaja Indonesia, dapat kita lihat bahwa mereka begitu kreatif. Hal itu secara tidak langsung dikarenakan oleh cara hidup yang begitu susah dan bermasalah di Indonesia. Remaja Indonesia dipaksa untuk melakukan/membuat sesuatu yang lain daripada yang lain agar tidak tersisih dari pergaulan.


Mengenai bidang kedisiplinan dan ketertiban, mungkin dalam sekilas saja dapat dikatakan bahwa remaja Malaysia lebih disiplin dan lebih tertib. Budaya antri adalah sesuatu yang biasa bagi mereka, tapi bagaimana kalau budaya itu diterapkan secara spesifik di kalangan remaja Indonesia? Apakah remaja Indonesia dapat menerima dan menerapkannya? Mungkin tidak.


Bicara tentang kedisiplinan & ketertiban, tidak lengkap kalau tidak membicarakan tentang pelanggaran peraturan. Memang tidak mungkin kalau tidak ada remaja Malaysia yang melanggar peraturan, tentunya ada. Seperti layaknya remaja Indonesia, merokok juga merupakan hal yang biasa ditemukan dalam kehidupan remaja Malaysia, walaupun tidak banyak dari mereka yang berani melakukannya secara terang-terangan. Penganiayaan juga sesekali terjadi diantara remaja Malaysia, walaupun tidak sampai ke tahap yang amat parah seperti tawuran.


Dan kemudian dari cara berpakaian. Memang, selera orang itu berbeda-beda. Dan mungkin itulah yang terjadi pada perbedaan cara berpakaian remaja Indonesia dan remaja Malaysia. Sekilas tidak ada yang berbeda antara cara berpakaian mereka, tetapia apabila diperhatikan dengan lebih mendetail, terlihat bahwa cara berpakaian remaja Malaysia, khususnya yang berada, terkesan lebih eksentrik daripada remaja Indonesia.


Bagaimanapun juga, seperti yang sudah saya tulis diatas, bahwa sebenarnya bahwa Bangsa Malaysia dan Bangsa Indonesia berasal dari satu kaum yang sama (baca:ras Melayu*). Bagaimanapun juga kita cari perbedaan diantara mereka, akan tetap lebih banyak persamaannya. Sekian.

*Nota:
Arti atau pengertian “Melayu” adalah suatu ras yang punya salah satu ciri fisik yaitu berkulit sawo matang. Ada pendapat yang mengatakan, bahwa ras Melayu merupakan hasil pencampuran antara ras Mongolia yang berkulit kuning, Dravisa yang berkulit hitam, dan Arian yang berkulit putih. Dalam pengertian ini, semua orang yang berkulit coklat (sawo matang) di seluruh nusantara digolongkan sebagai ras Melayu. Dengan demikian masyarakat Indonesia yang sebagian besar berkulit sawo matang termasuk kelompok ras Melayu. Mereka tersebar di pulau-pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Oleh karena itu sering terdengar sebutan-sebutan Melayu Aceh, Melayu Riau, Melayu Batak, Melayu Bugis, Melayu Dayak, Melayu Ambon, dan sebagainya.





Oleh: Lutfi Prayogi - Mantan Siswa SIK / Pemenang Lomba Menulis Bulan Bahasa 2003/2004
XxRyoChanxX
hmmm interesthing..I don't know if I can agree with some of the things being said here
rasibiduk
saya juga ada yang nggak setuju dengan artikel diatas, terutama tentang orang kita yang kreatif karena 'kepepet' ... teori macam apa ini, nggak bener nih. Emang udah dari sononya emang kreatif kok. Terus soal perbandingan busana..hmm mungkin kalau dibandingkan sama remaja daerah kali ya..
Aranadhel
Personally speaking its different... the lifestyle of the malaysian teens & indo teens... I can honestly voice this opinion due to my Malay-Indo parentage & how I see things in both countries... so yeah... lain banget sama sekali.
tengkuafif
Tapi opininya ditulis Indonesian yang tinggal di Malaysia. Kalau ianya ditulis Malaysian, sudah tentu banyaknya biasness.
rasibiduk
Namanya juga opini, nggak mesti 100% akurat kan? beerchug.gif
tengkuafif
Aran, perhaps you can tell us the difference.
Thanks!
Aranadhel
QUOTE (tengkuafif @ Jan 9 2006, 05:53 PM)
Aran, perhaps you can tell us the difference.
Thanks!
*



When I have the mood, I will.. not now...
tengkuafif
QUOTE (Aranadhel @ Jan 9 2006, 04:11 AM)
When I have the mood, I will.. not now...
*


And do you really have to tell everyone that you are not in the mood?
Aranadhel
QUOTE (tengkuafif @ Jan 9 2006, 06:15 PM)
And do you really have to tell everyone that you are not in the mood?
*


Nanti bila2 aku tulis...
tengkuafif
Baiklah,Aran.
Yang lain? Manakah opinimu?
purnomor
^ too much generalisations and weak arguments. sounds like a primary school essay..
anakjakarta84
Can we put pictures of them.... I'm getting tired of reading.... bawling.gif
furansizuka
You must be got it from: http://www.sekolahindonesia.edu.my/v2/kolom/kolom_01.htm
The writer is only Indo highschool student in Malaysia.
furansizuka
Let's face the reality:

Survei: Remaja Indonesia Punya Pengalaman Seks Sejak Usia 16
Jakarta, KCM
28 Jan 2005

Siapa nyana, ternyata sebagian besar remaja merasa tidak cukup nyaman curhat sama orang tuanya, terutama bertanya seputar masalah seks. Makanya, mereka lebih suka cari tahu sendiri melalui sesama teman ... dan nonton blue film.

Setidaknya, hasil itu menjadi salahsatu kesimpulan yang mengemuka dalam paparan hasil penelitian Synovate Research tentang perilaku seksual remaja di 4 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.

Survey ini mengambil 450 responden dari 4 kota itu dengan kisaran usia antara 15 sampai 24 tahun, kategori masyarakat umum dengan kelas sosial menengah keatas dan kebawah. Selain itu, juga diberikan pembagian terhadap para responden ini berdasarkan aktivitas seks yang aktif dan pasif.

Dari penelitian yang dilakukan sejak September 2004 itu, Synovate mengungkapkan bahwa sekitar 65% informasi tentang seks mereka dapatkan dari kawan dan juga 35% sisanya dari film porno. Ironisnya, hanya 5% dari responden remaja ini mendapatkan informasi tentang seks dari orang tuanya.

Para remaja ini juga mengaku tahu resiko terkena penyakit seksual (27%) sehingga harus menggunakan kontrasepsi (27%). Tapi, hanya 24% dari responden ini yang melakukan preventiv untuk mencegah penyakit AIDS menghinggapi mereka.

Berpengalaman sejak 16 tahun

Dalam penelitian ini juga menarik untuk melihat pengalaman seksual remaja di 4 kota ini. Sebab, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16 sampai 18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13 sampai 15 tahun.

Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%).

Uniknya, para responden ini sadar bahwa seharusnya mereka menunda hubungan seks sampai menikah (68%) dan mengerti bahwa hubungan seks pra nikah itu tidak sesuai dengan nilai dan agama mereka (80%). Tapi, mereka mengaku hubungan seks itu dilakukan tanpa rencana. Para responden pria justru 37% mengaku kalau mereka merencanakan hubungan seks dengan pasangannya. Sementara, 39% responden perempuan mengaku dibujuk melakukan hubungan seks oleh pasangannya.

Karenanya, ketika ditanya bagaimana perasaan para responden setelah melakukan hubungan seks pra nikah itu, 47% responden perempuan merasa menyesal karena takut hamil, berdosa, hilang keperawanan dan takut ketahuan orang tua.

"Mereka juga tahu bahwa ada beberapa jenis penyakit yang ditularkan dari hubungan seksual. Misalnya 93% tahu tentang AIDS dan 34% tahu Sipilis. Kalau tentang AIDS, mereka 82% tahu dari televisi, 20% dari internet dan hanya 10% yang tahu dari orang tuanya," kata camita Wardhana, Project Director Synovate yang mempresentasikan hasil penelitian ini.

Perlu informasi lebih lengkap

Meskipun hasil penelitian ini bukan hal yang baru bagi masyarakat saat ini, tetap saja perlu hati-hati menyikapinya agar tidak menjadi salah persepsi.

Adrianus Tanjung, Kepala Divisi Komunikasi Informasi, Edukasi dan Advokasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) melihat, meskipun hasil penelitian ini memberikan gambaran rata-rata pada perilaku remaja kita saat ini, ada beberapa faktor yang bisa saja bias.

"Seperti pembagian remaja yang aktif dan pasif secara seksual dalam penelitian ini, masih bisa diperdebatkan. Misalnya, apakah jika remaja yang pernah sekali melakukan hubungan seksual tapi lalu tidak melakukannya lagi, itu tetap dalam kategori aktif secara seksual?"

Namun, ia melihat bahwa hasil penelitian ini memberikan kecenderungan yang makin menguat bahwa para remaja ini membutuhkan tempat yang nyaman untuk mencurahkan perasaan atau bertanya seputar seks.

"Mereka sulit tanya ke orangtua karena bisa aja orangtua nggak tahu .Selain itu, mungkin juga mereka membutuhkan tempat yang didesain nyaman supaya mereka mau datang ke konseling seks," tambah Tanjung.

Sebab itu, PKBI yang juga pernah mendapatkan hasil serupa dari penelitian sejenis beberapa waktu lalu ini, menurut Tanjung, akan mencoba memberikan konseling lebih detil tentang alat-alat reproduksi kepada remaja. Caranya dengan masuk ke sekolah-sekolah melalui kegiatan ekstra kulikuler seperti Pramuka.

"Ini penting agar mereka mengerti organ reproduksi mereka sendiri, mulai dari pembuahan sampai hamil dan melahirkan. Dengan begitu, mereka akan lebih dapat menjaga diri sendiri, tahu resiko-resikonya, meskipun tidak selalu dalam pantauan orangtua," demikian Andrianus Tanjung. (Lily Bertha Kartika)
furansizuka
QUOTE (furansizuka @ Jan 9 2006, 07:44 AM)
You must be got it from: http://www.sekolahindonesia.edu.my/v2/kolom/kolom_01.htm
The writer is only Indo highschool student in Malaysia.
*

In the other hand, another high school student has become a great writer!

Berlindung di Bawah Payung: Ungkapan Protes Seorang Remaja
Republika
Selasa, 18-Juni-2002


Seorang cendekiawan menulis buku adalah hal biasa. Tapi seorang pelajar Sekolah Menengah Umum (SMU) swasta di Jakarta mengarang buku dan kemudian menerbitkannya, ini baru peristiwa langka.

Tapi itulah yang dilakukan Vincent Christian Liong. Meski usianya baru menginjak tahun ke-16, Vincent telah menunjukkan kebolehannya dalam bidang tulis-menulis. Ini dibuktikannya dengan buku 'Berlindung di Bawah Payung' yang diluncurkannya pekan ini.

Dalam bunga rampai yang memuat 35 tulisan ini, kelahiran Jakarta 20 Mei 1985 itu mampu pula menunjukkan kelugasan dan kejujuran hatinya. Ini antara lain terungkap dari cara Vincent membeberkan permasalahan yang dibahasnya, yang begitu gamblang; baik yang berkenaan dengan masalah politik, ekonomi, maupun masalah sosial kemasyarakatan. Segala hal yang diyakini benar, dihantarkannya dalam kalimat-kalimat penegasan. Sebaliknya, apa yang dinilai tak sesuai dengan persepsinya, langsung dikritiknya. Maka tak perlu diherankan bila adi sana-sini kita dapat menemukan ungkapan dalam bentuk komentar, bahkan sejumlah nasehat, atas fenomena paradoksal yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.

Tak cuma itu kehebatan Vincent. Mencermati teknik penulisannya, siapa pun bisa menyimpulkan bahwa Vincent memang memiliki bakat yang luar biasa. Selain memiliki kekayaan bahasa yang memadai, ia juga mampu memilih kata-kata yang ringkas dan merangkainya dalam kalimat-kalimat bermakna yang mudah dipahami pembacanya. Cara penyajiannya pun bervariasi. Ada tulisan yang disajikan dengan menggunakan perumpamaan (metafora), ada pula yang dilakukannya secara langsung.

Karenanya, obyek tulisan Vincent pun beragam. Umumnya ia mengambil obyek dari lingkungan kehidupannya sehari-hari. Tetapi ada pula yang berisikan masalah-masalah global, semisal mengenai kapitalis dan komunis. Sebuah kemampuan yang jarang dimiliki oleh rekan-rekan seusianya.

Dalam mengungkap masalah kemanusiaan misalnya, Vincent lebih suka mengambil obyek paku sebagai perumpamaan yang sarat pesan kehidupan. Paku, seperti diungkap Vinvent dalam tulisan berjudul ''Lurus dan Bengkok'', memiliki berbagai macam fungsi. Ada paku yang digunakan untuk menggantungkan sebuah lukisan, ada pula yang bisa digunakan untuk menggabungkan dua bilah kayu yang terpisah. Penentuan peran-peran itu tak lepas dari tuntutan kebutuhan yang menyertainya.

Ini hanya sebagian dari ungkapan Vincent dalam menyampaikan apa yang dirasakan dan dilihatnya. Seperti juga paku, kata Vincent, manusia di dunia selalu memiliki peran berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Menurutnya, cara manusia menghadapi kehidupan di dunia ini tak ada yang sama. Ada yang lebih suka menggunakan cara-cara halal, banyak juga yang memilih cara haram untuk dapat 'survive' dari kerasnya kehidupan. Peran paku bengkok diumpamakannya sebagai manusia yang menyambung hidupnya dengan cara-cara kotor. ''Sedang paku lurus bisa diartikan manusia yang dalam hidupnya melakukan cara-cara halal untuk dapat hidup.'' (hal 11)

Itu contoh tulisan yang disajikan dengan metafora. Bentuk tulisan langsung, dilakukan Vincent pada tulisan tentang nasib seorang guru sejarah di kelasnya. Guru sejarah, katanya, adalah sebagian komunitas yang berperan banyak dalam proses pencucian otak para generasi bangsa. Meski guru sebenarnya adalah sebuah profesi mulia, katanya, banyak guru yang terjerumus menjadi alat dalam proses transformasi kepentingan-kepentingan para penguasa agar tetap bisa berkuasa. Pelajaran sejarah yang telah terkooptasi oleh kepentingan pemerintah, kritik Vincent, hanya akan menjadi arena pencucian otak belaka.

Dalam pandangan Vincent, kini saatnya guru tak lagi dijadikan sebagai alat politik penguasa.[b/] Memberikan informasi sejarah yang kebenarannya patut dipertanyakan, katanya, sudah bukan zamannya lagi. Seorang guru sebaiknya dibiarkan bekerja sesuai dengan apa yang dipahaminya sebagai sebuah kebenaran. ''Jangan mengubah sejarah. Biarkanlah sejarah tertulis apa adanya.'' (hal 46)

[b]Jelas ini adalah ungkapan protes seorang pelajar yang tak bisa menerima begitu saja segala hal yang dijejalkan gurunya di bangku sekolah.
Ini sekaligus juga suatu ungkapan yang jujur dan kritis saat Vincent mendapati kehidupan sehari-harinya ternyata jauh berbeda dari apa yang telah dipelajarinya.

Hal lain yang menarik dari buku setebal 85 halaman ini adalah bahwa dalam setiap batas babnya, Vincent selalu menyisipkan kata-kata mutiara yang pernah dilontarkan para tokoh terkenal dunia. Seperti PB Medawar (ilmuwan dan filosof yang hidup pada 1915 sampai 1987), Voltaire (filosof 1694-1778), dan mantan presiden Amerika Serikat, Dwight D Eisenhower. Petikan-petikan itu memperlihatkan bahwa Vincent juga memiliki minat yang tinggi dalam bidang filsafat.

Di balik kemampuan dan bakatnya ini, adalah proses pelampiasan diri yang awalnya mendorong Vincent menceburkan diri ke dunia tulis-menulis ini. ''Awalnya saya menulis hanya sebagai pelarian saja. Kebanyakan kawan-kawan seusia saya selalu berhura-hura bila mencari pelarian, tapi saya lebih suka mengungkapkan protes dalam bentuk tulisan,'' katanya.

Vincent memang tak mengada-ada. Meski buku terbitan PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) ini dipersiapkan dalam waktu tiga bulan, tapi sebenarnya aktivitas menulis telah dijalaninya sejak lama. Saat duduk di kelas 2 SLTP Pangudi Luhur Jakarta misalnya, anak pasangan Liong Jun Hok-Inna Wongso ini sudah menulis sebuah karya berjudul 'Teleskop.' Begitu pula karya berjudul 'Petunjuk Rangkaian Listrik Seri Paralel' dan 'Yogyakarta Kota Seni dan Budaya,' sempat diselesaikannya selama ia berada di kelas 3 SLTP itu. Tentu semuanya itu tak diterbitkan karena hanya karya yang ditulis sebagai penugasan sekolah.

Maka, bila kita mencermati isinya, buku ini sebenarnya merupakan kumpulan kontemplasi Vincent sejak dia berada di bangku SLTP. Tulisan-tulisan dalam bukunya ini adalah sekumpulan karangan lepasnya, ketika hatinya dikecewakan oleh keadaan yang dihadapinya.

Beberapa tulisannya, kata Vincent, bahkan sempat dibuang ke tempat sampah oleh orangtuanya. Hanya saja ini tak menyurutkan semangat Vincent meneruskan kebiasaanya. Ini lantaran ia merasa telanjur terinspirasi oleh ucapan Samuel Beckett, penulis drama terkenal 'En Attendant Godot' (Menunggu Godot): ''Try again. Fail again. Fail better.'' Ternyata resep itu berhasil bagi Vincent. Terbukti dengan karya perdananya ini.

Apakah karya Vincent ini bakal menjadi buku yang sukses, memang masih harus diuji. Tapi setidaknya, kata pemerhati sastra Nono Anwar Makarim, keberanian Vincent menulis di usia belia adalah sebuah prestasi tersendiri. ''Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Penguasaan teknik penulisannya sangat sempurna. Kalimat-kalimat singkat dan lugas, keluar secara jernih melalui kata-kata yang penuh makna,'' katanya. ''Yang mungkin tidak akan pernah terpikir adalah bahwa buku ini ditulis oleh seorang anak berusia remaja.''
tengkuafif
Yup,I've got that article from that source. And yes,it was written by a highschool student but it seems to me that it has been written by a primary school student. I think the bahasa Melayu standard in Malaysia is higher compared to Indonesia.Nevertheless, I do find that his points are true and relevant,although stated in a such simple way.
By the way,thanks for your feedback,furan. It's very much appreciated.

P/S:
If you have watched AADC, I could say that Malaysian students are more disciplined and well mannered. Can we assume that AADC is a potrayal of the real Indonesian school environment?
haqine
Kebanyakkan sinetron atau film yang menggambarkan anak sekolahan dengan baju dikeluarkan, rok di atas lutut, dandan yang berlebihan, dll., tidak sesuai dengan gambaran semua anak-anak sekolah di Jakarta. Ini membuat kesan bahwa anak sekolah semuanya seperti itu, padahal tidak semua seperti itu. Gara2 ini banyak sekolah yang tidak mau sekolahnya dipakai untuk syuting sinetron atau film. Menurut saya AADC bisa dibilang gambaran anak sekolah yang hampir mendekati kenyataan. Salah satunya, gak pake make up. Benar2 polos sebagaimana remaja.

Masalah kreatifitas, ternyata anak di daerah jawa tengah dan jawa timur, lebih kreatif dari jakarta atau jawa barat. Ini terbukti, jika ada kegiatan lomba karya ilmiah, peserta lebih banyak dari dua daerah tersebut. Ini kemungkinan dikarenakan, anak-anak di kedua daerah tersebut lebih sering dibiasakan melakukan praktek atau langsung terjun ke lapangan dalam mempelajari suatu mata pelajaran.
Kalo masalah berpakaian, mungkin akan terlihat beda jika dibandingkan dengan anak-anak sekolah di kota-kota kecil. Di ciamis, di desa ayah saya masih bisa dilihat anak-anak yang sudah remaja berpakaian baju kurung, dan sebagian memakai selendang. Kalo Bandung sih, pada modis anak sekolahannya embarassedlaugh.gif
RuthinJpn
QUOTE (haqine @ Jan 10 2006, 03:35 AM)
Kebanyakkan sinetron atau film yang menggambarkan anak sekolahan dengan baju dikeluarkan, rok di atas lutut, dandan yang berlebihan, dll., tidak sesuai dengan gambaran semua anak-anak sekolah di Jakarta. Ini membuat kesan bahwa anak sekolah semuanya seperti itu, padahal tidak semua seperti itu. Gara2 ini banyak sekolah yang tidak mau sekolahnya dipakai untuk syuting sinetron atau film. Menurut saya AADC bisa dibilang gambaran anak sekolah yang hampir mendekati kenyataan. Salah satunya, gak pake make up. Benar2 polos sebagaimana remaja.

Masalah kreatifitas, ternyata anak di daerah jawa tengah dan jawa timur, lebih kreatif dari jakarta atau jawa barat. Ini terbukti, jika ada kegiatan lomba karya ilmiah, peserta lebih banyak dari dua daerah tersebut. Ini kemungkinan dikarenakan, anak-anak di kedua daerah tersebut lebih sering dibiasakan melakukan praktek atau langsung terjun ke lapangan dalam mempelajari suatu mata pelajaran.
Kalo masalah berpakaian, mungkin akan terlihat beda jika dibandingkan dengan anak-anak sekolah di kota-kota kecil. Di ciamis, di desa ayah saya masih bisa dilihat anak-anak yang sudah remaja berpakaian baju kurung, dan sebagian memakai selendang. Kalo Bandung sih, pada modis anak sekolahannya  embarassedlaugh.gif
*


yup yup !! waktu gw SMA dulu rok gw di bawah lutut !! eek.gif unik kali ya gw hehehe cool30.gif tapi ada bbrp temen gw yg gitu juga sih. mgkn kami malas aza kena razia kalo pas ada razia rok eek.gif . kalo roknya di atas lutut, roknya bakal dilepasin jahitannya pada lipatan bawah atau disuruh pake rok yg disediain oleh sekolah & itu bakal lebih malu2in biggrin.gif
setau gw cewe2 ind kebanyakan/biasanya polos without make up. makanya sampe2 cowo2 jpg pada kaget lihat cewe2 ind yg super polos biggrin.gif
tengkuafif
Apakah benar majoriti pelajar di Indonesia memakai skirt yang singkat di sekolah? Di Malaysia, kebanyakkan pelajar perempuan memakai baju kurung (bilangan yang memakai skirt adalah kecil sekali), begitu juga dengan pelajar-pelajar perempuan Cina yang juga selesa mengenakan baju kurung.



Gambar pakaian seragam sekolah di Malaysia:
Pelajar lelaki hanya memakai baju Melayu pada hari Jumaat. Warna sarong/pelikat/samping yang digunakan adalah berbeza mengikut sekolah-sekolah. Tetapi umumnya menggunakan warna biru tua/muda.




Contoh sebuah sekolah di Malaysia
SMK (Sekolah Menengah Kebangsaan) Abdullah, Sabah.

Di Malaysia, penerapan nilai-nilai Islamik juga adalah penting. Setiap pagi, pelajar-pelajar mengaminkan doa di perhimpunan.
Aranadhel
Not all schools do that.. Private & international schools dont follow that custom.. its because the majority of students who goes there are non-muslims.
purple
QUOTE (anakjakarta84 @ Jan 9 2006, 10:36 PM)
Can we put pictures of them.... I'm getting tired of reading.... bawling.gif
*


and a translation..

or a summary..

or dot points..
furansizuka
QUOTE (tengkuafif @ Jan 9 2006, 11:16 AM)
Can we assume that AADC is a potrayal of the real Indonesian school environment?
*

Yes we can.
haqine
QUOTE (tengkuafif @ Jan 10 2006, 09:20 AM)
Apakah benar majoriti pelajar di Indonesia memakai skirt yang singkat di sekolah? Di Malaysia, kebanyakkan pelajar perempuan memakai baju kurung (bilangan yang memakai skirt adalah kecil sekali), begitu juga dengan pelajar-pelajar perempuan Cina yang juga selesa mengenakan baju kurung.
Di Malaysia, penerapan nilai-nilai Islamik juga adalah penting. Setiap pagi, pelajar-pelajar mengaminkan doa di perhimpunan.
*


Gak semua murid pake rok yang pendek, makanya sinetron2 remaja banyak yang diprotes karna tidak mencerminkan seorg pelajar.
Kalau di bandung, semua sekolah (buat yang muslim) mulai dari dua tahun kemaren, setiap jumat semua murid perempuan harus pake rok panjang dan lengan panjang, sedangkan laki-lakinya harus pake baju koko.
Penerapan agama di sini sangat penting, walaupun itu adalah sekolah umum.
Salah satu sekolah Islam yang bagus di Indonesia adalah Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.
tengkuafif
QUOTE (Aranadhel @ Jan 10 2006, 03:24 PM)
Not all schools do that.. Private & international schools dont follow that custom.. its because the majority of students who goes there are non-muslims.
*


Why do you want to talk about private and international schools? embarassedlaugh.gif
Aranadhel
QUOTE (tengkuafif @ Jan 15 2006, 05:55 PM)
Why do you want to talk about private and international schools? embarassedlaugh.gif
*



Let the Indo community know the differences btwn government schools & private/international schools..
tengkuafif
International schools are all the same in every country.
Aranadhel
QUOTE (tengkuafif @ Jan 15 2006, 07:07 PM)
International schools are all the same in every country.
*



relaks wei... aku penat la nak kena explain everything kat kau ni... aku cuma ckp. sekolah private di m'sia takde buat cam tu... thts it man.
Aranadhel
*deleted post.*
tengkuafif
QUOTE (Aranadhel @ Jan 15 2006, 06:26 PM)
relaks wei... aku penat la nak kena explain everything kat kau ni... aku cuma ckp. sekolah private di m'sia takde buat cam tu... thts it man.
*


You don't have to explain about it anyways. Of course they just want to know about the national education system.Not international nor private.
Aranadhel
QUOTE (tengkuafif @ Jan 15 2006, 07:41 PM)
You don't have to explain about it anyways. Of course they just want to know about the national education system.Not international nor private.
*



aduh. kau ni...
tengkuafif
Purple!
Aran is becoming emotional again!
tufail
Memang benar untuk negara-negara Asia khususnya Indonesia dan Malayasia banyak kesamaan dari segi kulturnya, walaupun untuk sekarang di bidang ekonomi Indonesia agak tertinggal, tapi kalau dari segi kreatifitas, Indonesia bisa di sebut lebih dan itu bukan karena faktor ekonomi.....! beerchug.gif emang Indonesia gudangnya orang-orang kretif.

Konon beberapa tahun silam guru-guru yang ada di Malayasia adalah orang-orang Indonesia, dan sekarangpun masih banyak guru-guru yang ada di Malayasia orang Indonesia.

_____
Asia
This is a "lo-fi" version of our main content. To view the full version with more information, formatting and images, please click here.
Invision Power Board © 2001-2013 Invision Power Services, Inc.