PETUALANGAN DEVINA DAN MILINKADi tengah belantara kehidupan malam yang selama ini dianggap sebagai dunia hedonisme laki-laki, sepasang perempuan mencoba membuktikan dunia malam tidak lagi dikuasai laki-laki. Mereka Electric Barbarellas dan sebuah petualangan baru segera dimulai.
Electric Barbarellas adalah Devina dan Milinka, fenomena baru jagat musik dansa Indonesia. Di tengah dominasi disc jockey (DJ) laki-laki yang memainkan musik "bawah tanah" di negeri ini, mereka memutuskan terjun menjadi peramu musik elektronik yang setia mengiringi pecinta malam bergoyang, mengentakkan tubuhnya di kelab-kelab.
"DJ cewek di Jakarta masih sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari. Ini memang dunia yang masih milik lelaki," tutur Milinka (27).
Menjadi DJ perempuan saja sudah merupakan hal yang langka dan merupakan daya tarik tersendiri. Namun, tidak itu saja kelebihan yang dimiliki Electric Barbarellas. Mereka juga satu-satunya DJ yang bermain berpasangan dalam format Duo DJ.
Lebih dari itu, dua perempuan yang memiliki latarbelakang sebagai model itu pun memberi sentuhan mode pada penampilan mereka. Dalam beberapa penampilan, Devina dan Milinka mengenakan busana rancangan desainer Oscar Lawalatta. "Oscar sering meminta kami memeragakan busananya sekalian nge-DJ," kata Milinka.
Pilihan Saat sebagian besar orang lain masih memandang dunia ini sekadar sarana hura-hura sesaat, dua perempuan tersebut memutuskan menjadikan DJ sebagai profesi serius. Pilihan ini bukan karena mereka sudah mentok tidak bisa mencari pekerjaan lain.
Dengan latar belakang pendidikan dan ijazah yang mereka punya, dapat dikatakan mereka tidak akan menemui kesulitan berarti untuk bersaing dengan para profesional Jakarta. Devina, putri dari pasangan Indonesia-Belanda, selama sepuluh tahun tinggal di Sydney, Australia, bersama ayahnya.
Di sana ia berhasil mengantongi gelar sarjana desain grafis dan diploma ilmu perhotelan. Sejak saat itu, dia telah bekerja sebagai eksekutif di berbagai hotel dan kelab, baik di Australia maupun di Jakarta.
Milinka, yang blasteran Indonesia-Yugoslavia, menyandang gelar sarjana ekonomi dari Belanda. Selain berpengalaman menjadi pialang saham dan eksekutif perusahaan periklanan di Singapura, dia juga menekuni profesi fotomodel.
Sekilas saja, profesi-profesi yang telah mereka jalani jelas sudah menjanjikan status dan penghasilan cukup. Toh, mereka tetap memutuskan meninggalkan semua kerja kantoran yang diidam-idamkan orang itu untuk terjun menjadi DJ. "Soalnya, duitnya di sini bisa lebih banyak dari kerja-kerja sebelumnya itu, he-he-he," ujar Milinka mengungkapkan salah satu alasannya.
Berguna Namun, bukan itu alasan utama mereka. Devina dan Milinka mengaku, saat berada di belakang turntable memainkan musik, mereka merasa menjadi orang yang lebih berguna bagi orang lain dibanding saat masih kerja kantoran.
"Tidak ada perasaan yang bisa menandingi saat crowd di depan kami bersorak dan menari karena menyenangi musik yang kami mainkan," tutur Devina.
Ketertarikan mereka menekuni profesi sebagai DJ diawali dari hobi. Sudah sejak di Sydney Devina telah menjadi kolektor pelat musik dansa. Sementara itu, Milinka menjadi penggemar dugem sejak lama.
Kemampuan menjadi DJ sedikit demi sedikit mereka pelajari secara otodidak. Devina, misalnya, suka mengintip bagaimana para DJ beraksi saat ia bekerja sebagai marketing executive di kelab Vertigo, Plaza Semanggi. Sementara Milinka sempat belajar selama tiga bulan di sebuah tempat kursus DJ di Kemang, Jakarta Selatan.
Devina dan Milinka bertemu pertama kali di sebuah kelab pertengahan 2005, dan sejak saat itu menjadi dekat dan mulai berlatih main musik bareng di rumah Milinka. Bulan November tahun yang sama, mereka resmi terjun ke bursa DJ dengan nama Electric Barbarellas. "Modalnya sebagian besar nekat. Kami tidak akan pernah belajar dari pengalaman bila tidak nekat," kata Milinka mantap.
Meski karier mereka sekarang jauh dari latar belakang pendidikan formal keduanya, tetapi tidak berarti ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan kemudian tidak terpakai. Pengetahuan mereka tentang cara mengemas citra dan pemasaran, sangat membantu. "Kami tidak punya manajer. Mulai dari promosi hingga mengatur jadwal pentas, kami tangani sendiri," ungkap Milinka.
Berkat kerja keras mereka, dalam waktu singkat nama Electric Barbarellas telah dikenal, tidak saja di dance scene Jakarta melainkan juga jagat dugem di kota-kota besar lain di Jawa dan sampai di luar Jawa.
"Hampir semua kota besar di Jawa sudah pernah kami datangi untuk bermain. Selain itu kami juga pernah diundang ke Makassar, Pontianak, Banjarmasin, Medan, dan tentu saja Bali," tambah Devina.
Petualangan Perjalanan hidup Devina dan Milinka seolah telah digariskan menjadi jalan penuh petualangan. Petualangan fisik dalam arti harfiah pernah mereka jalani.
Tahun 2005, Devina dan Milinka tercatat sebagai peserta reality show adu nyali Fear Factor Indonesia episode 2. Devina keluar sebagai pemenang dan membawa pulang hadiah sebesar Rp 50 juta.
Petualangan lainnya adalah hari Sabtu 27 Mei lalu. Akhir pekan itu, mereka diundang bermain di sebuah kelab di Yogyakarta. Mereka memainkan musik hingga pukul 04.00, dan kemudian kembali ke hotel. Belum ada dua jam mereka terlelap, Yogyakarta diguncang gempa.
Masih mengenakan baju tidur, mereka langsung lari menyelamatkan diri dari kamar hotel di lantai dua itu. "Bandara Yogya ditutup, jadi kami harus ke Solo. Sepanjang jalan kami menyaksikan kehancuran dan wajah-wajah panik orang yang terluka," tutur Devina.
Namun, di balik ketangguhan kedua perempuan ini, mereka tetap saja menyimpan kelembutan seorang ibu. Milinka, ibu dari Venka (1 tahun 5 bulan), mengatakan, dengan bekerja sebagai DJ dia justru bisa melaksanakan tugasnya sebagai ibu dengan lebih baik.
"Menjadi DJ paling hanya bekerja hari Jumat sampai Minggu. Itu pun paling 2-3 jam pada tengah malam, pas anak saya tidur. Sisanya, dari hari Senin sampai Kamis, saya bisa selalu bertemu dan merawat anak saya," katanya.
Saat harus bermain di luar kota pun dimanfaatkan Milinka untuk mengajak keluarganya ikut. "Untung suami saya seorang wiraswasta, jadi jadwalnya gampang. Kalau ada acara di luar kota, sekeluarga saya ajak sekalian berlibur," ujarnya tersenyum.
Itu pun adalah sebuah petualangan.... (Dahono Fitrianto)
http://www.kompas.com/wanita/news/0606/26/150857.htm